Masjid Sabilurrohman
Khazanah | 2026-02-16 17:07:28
Ada orang yang tidak percaya kepada Allah, namun ia tetap tunduk pada hukum alam. Ia tetap lahir, tumbuh, menua, lalu mati. Ia tetap membutuhkan udara untuk bernapas, makanan untuk bertahan hidup, dan waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan.
Seorang pria bermunajat di bawah langit malam yang bertabur bintang, menggambarkan kepasrahan hati dalam sunyi dan ketenangan di bawah sunatullah-Nya.
Itulah sunatullah—ketetapan Allah yang berlaku atas seluruh makhluk tanpa kecuali.
Hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta tak pernah benar-benar bisa diputus. Sadar atau tidak, manusia hidup dalam aturan-Nya. Bahkan ketika seseorang menolak keberadaan Allah, tubuhnya tetap berjalan sesuai sistem yang Allah ciptakan. Jantungnya berdetak tanpa ia perintah. Mata melihat tanpa ia rancang sendiri. Akal berpikir dengan kemampuan yang bukan ia ciptakan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-‘Alaq ayat 5:
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa semua ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah. Pengetahuan manusia berkembang, teknologi maju, peradaban berubah—namun sumber kemampuan belajar itu sendiri adalah anugerah dari-Nya. Tidak ada satu pun manusia yang benar-benar mandiri secara mutlak.
Semua kehidupan berada dalam kuasa-Nya. Kita bisa merencanakan, tetapi hasil tetap di tangan-Nya. Kita bisa berusaha, tetapi takdir tetap berjalan sesuai ketetapan-Nya.
Lalu mengapa kita sering merasa mandiri? Mengapa merasa mampu tanpa-Nya? Mungkin karena keberhasilan membuat kita lupa, dan kelapangan membuat kita lalai. Padahal setiap detik yang kita jalani adalah bukti ketergantungan kita kepada Allah.
Ibadah bukan sekadar kewajiban ritual. Ia adalah pengakuan jujur bahwa kita adalah makhluk. Bahwa kita lemah. Bahwa kita butuh. Sujud bukan merendahkan martabat manusia—justru mengangkatnya pada posisi yang benar: hamba di hadapan Rabb-nya.
Kesadaran ini justru membebaskan. Ketika kita mengakui keterbatasan, kita tidak lagi memikul dunia sendirian. Kita bersandar kepada Yang Maha Kuat. Kita tidak lagi tertekan oleh ilusi kemandirian yang rapuh.
Sunatullah mengajarkan kita satu hal penting: hidup memiliki aturan, dan kebahagiaan lahir dari keselarasan dengan aturan itu. Semakin seseorang melawan fitrah dan ketetapan Allah, semakin ia merasa gelisah. Namun ketika ia menerima bahwa dirinya adalah hamba—yang hidup, belajar, dan bergerak atas izin Allah—hatinya menjadi tenang. Maka kunci ketenangan bukanlah merasa kuat, tetapi sadar bahwa kita selalu berada dalam genggaman-Nya.
Malam ini, mari bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita hidup selaras dengan sunatullah, atau masih berusaha berjalan sendiri tanpa mengakui siapa yang mengatur langkah kita?
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
1















































