REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Lintar Satria Zulfikar
Di Pasar Omele, Saumlaki, pagi itu aktivitas berlangsung seperti biasa. Perahu-perahu nelayan baru merapat membawa hasil tangkapan segar, sementara pedagang menawarkan ikan layang, tongkol, dan berbagai hasil laut lainnya kepada pembeli.
Di balik hiruk-pikuk pasar yang telah menjadi denyut ekonomi masyarakat Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, selama puluhan tahun, tersimpan harapan proyek LNG Abadi Blok Masela akhirnya dapat membawa perubahan yang selama ini dinanti. Kuway, warga setempat salah satunya.
Pensiunan pegawai negeri sipil yang kini menghabiskan hari-harinya dengan beraktivitas di sekitar kota, ini memandang proyek gas raksasa di Laut Arafura itu sebagai peluang untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Namun, menurut dia, manfaat tersebut hanya akan benar-benar dirasakan apabila masyarakat lokal dipersiapkan untuk ikut mengambil bagian.
"Kalau Blok Masela sudah jalan berarti membantu masyarakat untuk menambah ekonomi masyarakat lebih bagus. Tinggal persiapan SDM-nya bagaimana," kata Kuway saat ditemui Republika di Pasar Omele, Saumlaki, Kamis (16/7/2026).
Dia menuturkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan terbesar. Tanpa tenaga kerja yang siap, peluang pekerjaan justru berpotensi diisi pekerja dari luar daerah. "Kalau SDM tidak menunjang berarti Blok Masela datangkan dari luar," ujarnya.
Harapan itu mengemuka ketika Pemerintah Indonesia bersama SKK Migas dan INPEX Masela Ltd. resmi memulai pembangunan fisik Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela melalui peletakan batu pertama di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (16/7). Setelah 28 tahun sejak cadangan gas Abadi ditemukan, proyek tersebut akhirnya memasuki tahap konstruksi.
Presiden Prabowo Subianto, yang mengikuti peresmian secara virtual dari Istana Negara, menyebut proyek tersebut sebagai salah satu penentu masa depan ketahanan energi Indonesia. Dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun, proyek itu diproyeksikan memperkuat pasokan energi nasional sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok LNG dunia.
Selain memproduksi gas alam cair, Lapangan Abadi juga akan mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), menjadikannya salah satu proyek LNG pertama di dunia yang mengoperasikan penangkapan dan penyimpanan karbon secara bersamaan dengan produksi gas dalam skema cost recovery.
Bagi warga Saumlaki, proyek berskala nasional itu dipandang bukan sekadar investasi energi, melainkan peluang memperbaiki kondisi ekonomi daerah yang dinilai belum banyak berubah sejak Kepulauan Tanimbar menjadi kabupaten sendiri pada awal 2000-an.
Kuway menilai, kehidupan masyarakat kecil masih menghadapi berbagai tantangan. Menurut dia, lapangan pekerjaan di luar sektor pemerintahan masih terbatas dan sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai petani maupun nelayan. "Petani," jawabnya singkat ketika ditanya mengenai mata pencaharian utama masyarakat.
Komoditas pertanian lokal, kata dia, didominasi tanaman umbi-umbian. Sementara sebagian kebutuhan pangan, termasuk beberapa jenis sayuran dan kentang, masih harus didatangkan dari luar daerah.
Kondisi tersebut membuat harga kebutuhan pokok relatif tinggi. Bahkan menurutnya, gejolak ekonomi global pun cepat terasa hingga ke wilayah paling selatan Provinsi Maluku itu. "Kalau Amerika sudah melonjak tinggi berarti mempengaruhi dunia," ujarnya merujuk pada kenaikan harga yang ikut dirasakan masyarakat.
Di tengah tantangan tersebut, pembangunan infrastruktur memang mulai terlihat di Saumlaki. Salah satunya adalah Pasar Omele yang kini berdiri sebagai bangunan permanen menggantikan pasar tradisional lama yang pernah terbakar.
Kuway menyampaikan, pembangunan pasar itu memberi nilai tambah karena menarik lebih banyak orang datang berbelanja. Namun, ia mengakui, daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya. "Ada sedikit nilai tambah karena dengan bangunan yang begitu megah menarik perhatian orang berkunjung ke sini," katanya.
Meski demikian, sambung dia, harga barang yang tinggi justru membuat kebutuhan konsumen menurun. "Hanya harganya terlalu mahal. Kebutuhan konsumen kurang karena harganya melonjak tinggi," ucap Kuway.
Bagi Kuway, persoalan tersebut tidak lepas dari kondisi ekonomi masyarakat secara umum. Dia menyebut, perhatian terhadap masyarakat kecil masih perlu ditingkatkan agar pembangunan benar-benar dirasakan hingga tingkat bawah.
Kuway menyatakan, banyak pedagang di pasar harus membawa pulang dagangannya karena pembeli tidak sebanyak yang diharapkan. Sayuran bahkan kerap tidak bertahan lama sebelum akhirnya rusak.
Karena itu, ia berharap proyek LNG Abadi tidak hanya menghasilkan investasi besar, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Pemerintah memperkirakan proyek tersebut akan menjadi salah satu investasi energi terbesar di Indonesia.

16 hours ago
10











































