Warga Giwangan Jogja Ubah Saluran Irigasi Jadi Kolam Ikan

4 hours ago 6

Warga Giwangan Jogja Ubah Saluran Irigasi Jadi Kolam Ikan

Foto ilustrasi irigasi persawahan. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Warga Karangmiri, Giwangan, Kota Jogja, mengembangkan inovasi lingkungan dengan memanfaatkan saluran irigasi sebagai kolam budidaya ikan. Inisiatif ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengapresiasi langkah warga tersebut karena mampu mengubah potensi limbah rumah tangga menjadi sumber daya produktif. Menurutnya, sisa makanan yang sebelumnya menjadi sampah kini justru dimanfaatkan sebagai pakan ikan yang bernilai ekonomi.

“Tidak hanya sekadar mengolah sampah, tetapi sampai ke hilirnya. Multiplier effect-nya muncul dan ekonomi sirkularnya berjalan,” ujar Hasto, Sabtu (20/6/2026).

Ia menjelaskan, sistem yang dikembangkan warga melibatkan dasawisma dalam pengumpulan sampah organik. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi pakan ikan pada kolam-kolam yang dibangun di sepanjang saluran irigasi. Hasil panen ikan pun dapat dinikmati langsung oleh warga maupun dijual untuk menambah pendapatan.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga berdampak pada kebersihan lingkungan dan konservasi air. Saluran irigasi yang sebelumnya dipenuhi sampah kini menjadi lebih bersih dan berfungsi optimal sebagai jalur aliran air.

Hasto menilai praktik di Karangmiri dapat menjadi contoh pengembangan lingkungan berbasis gotong royong yang bisa direplikasi di wilayah lain. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air melalui pemanfaatan yang bijak sebelum mengalirkannya ke sungai.

Sementara itu, Pinitua Tuwanggana Kelurahan Giwangan, Slamet Haryanto, mengatakan program ini berawal dari kepedulian warga terhadap kondisi saluran irigasi yang sempat kotor dan tersumbat sampah.

Warga kemudian bergotong royong membersihkan saluran dan memasang sekat untuk menyaring sampah sebelum dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya ikan seperti nila, lele, patin, hingga bawal.

“Sekarang setiap hari ada sekitar 75 kilogram sisa makanan yang bisa kami manfaatkan sebagai pakan ikan,” jelasnya.

Menurut Slamet, hasil panen ikan tidak hanya dibagikan kepada warga, tetapi juga dijual kembali untuk mendukung keberlanjutan program, termasuk pembelian benih ikan baru. Inisiatif ini kini berkembang menjadi sistem ekonomi lokal yang berputar dan berkelanjutan di tingkat kampung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|