
Warga membersih Sungai Serang, Kulonprogo./ Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO— Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO) Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pemeliharaan sekaligus normalisasi Sungai Serang di Wates, Kulonprogo, sepanjang Agustus 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan potensi banjir ketika musim hujan sekaligus menjaga ketersediaan air irigasi pertanian pada musim kemarau.
Program penataan sungai ini menjadi respons atas tingginya sedimentasi yang terjadi di kawasan hulu hingga hilir sekitar jembatan Sungai Serang. Penumpukan material di dasar sungai dinilai telah mempersempit aliran air sehingga meningkatkan risiko luapan ke permukiman serta menggerus tanah di sepanjang bantaran.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Serayu Opak, Vicky Ariyanti, mengatakan kondisi Sungai Serang saat ini membutuhkan penanganan segera agar kapasitas aliran kembali optimal.
"Kondisi saat ini memang penuh dengan sedimen. Jika tidak kita tata kembali, saat banjir air berisiko melimpas ke samping. Kita kembalikan ruang sungainya agar posisi dan ukurannya tetap ideal, sehingga saat banjir air bisa mengalir lebih teratur," ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
Normalisasi dilakukan melalui pengerukan dasar sungai sepanjang sekitar 500 meter. Penanganan dibagi menjadi dua sisi dengan panjang masing-masing 224 meter dan 225 meter, sedangkan waktu pelaksanaan ditargetkan efektif selama 30 hari.
Selain mengangkat sedimen, BBWSSO juga memperkuat dan merapikan struktur dasar tanggul agar lebih tahan terhadap gerusan saat debit air meningkat pada musim hujan.
Dukung Irigasi dan Ketahanan Air Bersih
Vicky menjelaskan proyek tersebut menerapkan pendekatan Nature-Based Solution atau solusi berbasis alam. Pelaksanaan pada musim kemarau dipilih agar dasar sungai dapat difungsikan sebagai ruang tampungan air yang nantinya menyuplai Bendung Pekik Jamal di bagian hilir untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian.
Menurutnya, manfaat normalisasi tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada sumber air tanah.
"Jika dasar sungai ini dikeruk, proses infiltrasi atau penyerapan air ke cekungan air tanah atau aquifer akan meningkat. Semakin dalam kondisinya, debit air pada sumur-sumur warga di sekitarnya pasti akan bertambah," ucap Vicky.
Material sedimen hasil pengerukan juga tidak dibiarkan terbuang. BBWSSO memanfaatkannya untuk mendukung pembangunan infrastruktur lokal, salah satunya sebagai material penimbunan lahan parkir di sekitar Stadion Cangkring.
Masyarakat Diminta Menjaga Fungsi Bantaran Sungai
BBWSSO menegaskan tujuan utama proyek ini ialah mengembalikan fungsi dan ruang Sungai Serang agar bekerja sebagaimana mestinya. Karena itu, masyarakat diimbau tidak menggunakan bantaran sungai untuk aktivitas yang melanggar aturan, seperti mendirikan kandang maupun mengalihfungsikan lahan yang berpotensi menghambat aliran air.
"Alam itu menjaga keseimbangannya, jadi kita harus kembalikan ke ruang aslinya. Kami berharap masyarakat semakin teredukasi untuk menjaga fungsi sungai bersama-sama," tegasnya.
Normalisasi Sungai Serang dijadwalkan selesai pada akhir Agustus 2026. Setelah rampung, proyek tersebut diproyeksikan menjadi contoh standar operasional prosedur (SOP) penataan sungai di wilayah kerja BBWS Serayu Opak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































