Trump Masih Ingin Bersepakat dengan Iran, Singgung Serangan Besar

2 hours ago 6

Newswire

Newswire Kamis, 06 Agustus 2026 12:57 WIB

Trump Masih Ingin Bersepakat dengan Iran, Singgung Serangan Besar

Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. - Freepik

Harianjogja.com, WASHINGTON— Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih mengutamakan penyelesaian diplomatik dengan Iran meski mengklaim negaranya telah menyiapkan operasi militer berskala besar. Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara di hadapan para pendukungnya di Las Vegas, di tengah masih berlangsungnya dinamika hubungan kedua negara.

Trump mengatakan dirinya lebih memilih penyelesaian melalui kesepakatan karena tidak ingin konflik menimbulkan korban jiwa. Namun, ia juga menegaskan Amerika Serikat siap mengambil langkah militer apabila diperlukan.

"Saya lebih memilih mencapai kesepakatan karena saya tidak ingin mencelakai orang, saya tidak ingin membunuh orang. Namun, pada titik tertentu, kami akan melakukannya. Kami sudah mempersiapkan serangan terbesar dan telah menyerang mereka dengan sangat keras dalam beberapa bulan terakhir.

Kami telah bersiap melancarkan serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Lalu mereka menelepon saya dan berkata, 'Tolong jangan lakukan itu. Mari kita bicara.' Namun kemudian mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengatakan tidak pernah menyampaikan hal itu," kata Trump saat berbicara di hadapan para pendukungnya di Las Vegas.

Trump menambahkan bahwa Iran menghormati Amerika Serikat, meski ia tidak memberikan kepastian mengenai arah hubungan kedua negara ke depan.

"Kita lihat saja apa yang akan terjadi," ujarnya.

Trump Sebut Sempat Batalkan Serangan terhadap Iran

Sebelumnya, pada Ahad (2/8/2026), Trump mengungkapkan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran karena masih terdapat peluang untuk mencapai penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Ia menyebut rancangan kesepakatan tersebut secara garis besar mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penyelesaian isu terkait program nuklir Iran.

Laporan The New York Times menyebutkan rancangan kesepakatan itu memuat ketentuan agar Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 60 hari.

Menlu Yordania Soroti Ketegangan di Yerusalem

Di tengah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menyoroti situasi di Timur Tengah. Ia menyebut rezim zionis Israel sebagai pihak yang mendorong konflik di kawasan berkembang menjadi konflik agama.

"Pelanggaran Israel terhadap kesucian Masjid Al Aqsa dan upaya merongrong identitasnya dapat mengakibatkan konflik agama yang memicu seruan jihad global untuk mempertahankan satu dari tiga situs tersuci bagi dua miliar umat Muslim," kata Safadi, Rabu.

Pernyataan tersebut disampaikan Safadi dalam pertemuan tingkat menteri mengenai Yerusalem dan situs-situs suci di kota itu yang dihadiri para pemimpin Arab dan Muslim di Amman.

Ia memperingatkan bahwa apabila konflik agama telah dipicu, situasi tersebut akan sulit dikendalikan.

Safadi juga mendesak komunitas internasional agar segera melakukan intervensi untuk menghentikan aksi rezim zionis Israel di Yerusalem beserta situs-situs sucinya.

Dalam kesempatan yang sama, Safadi menegaskan bahwa Palestina merupakan pemilik sejati Yerusalem, sedangkan Wangsa Hasyimiyah Yordania memiliki peran sebagai wali atas situs-situs suci umat Muslim dan Kristen di kota tersebut.

Menurutnya, tanggung jawab menjaga situs suci itu tidak hanya berada di tangan Yordania, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama masyarakat Arab, Muslim, dan komunitas internasional.

Safadi menuduh Israel terus memperkuat pendudukan ilegal di Yerusalem Timur melalui perluasan permukiman, pencaplokan wilayah, penyitaan properti, serta pemisahan kota tersebut dari wilayah Palestina yang diduduki.

Ia juga menuding rezim zionis Israel membatasi kebebasan beribadah umat Muslim dan Kristen serta berupaya mengambil alih aset tanah dan keuangan gereja-gereja Kristen di kawasan tersebut.

Sebagai penutup, Safadi menegaskan bahwa konflik Arab-Israel bukan merupakan konflik agama. Menurutnya, akar persoalan berada pada penjajahan wilayah Palestina serta tidak dipenuhinya hak rakyat Palestina atas kebebasan dan kedaulatan mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|