Harianjogja.com, NEW YORK—Ketegangan antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV memanas setelah kritik terkait konflik Iran. Trump melontarkan serangan verbal terbuka dan menolak kritik yang ditujukan pada kebijakan luar negerinya.
Pernyataan keras itu muncul setelah Paus Leo XIV sebelumnya menilai ancaman terhadap rakyat Iran sebagai hal yang tidak dapat diterima, serta menyerukan penghentian konflik dan jalan damai.
Trump merespons melalui media sosial dengan nada tajam. Ia menyebut tidak membutuhkan sosok paus yang mengkritik kebijakannya, termasuk terkait isu Iran dan kebijakan luar negeri lainnya.
"Saya tidak ingin seorang Paus berpikir bahwa baik-baik saja jika Iran memiliki senjata nuklir... dan saya tidak ingin ada seorang Paus yang mengkritik presiden Amerika Serikat," kata Trump.
Ia juga menuding Paus terlalu berpihak pada kelompok tertentu dan meminta agar fokus pada peran keagamaan, bukan politik.
Sebelumnya, Paus Leo XIV dalam sejumlah pernyataan menyinggung bahaya perang dan penggunaan kekuatan berlebihan. Dalam homili dan seruan publik, ia menekankan bahwa dorongan dominasi dan kekerasan tidak sejalan dengan ajaran agama serta nilai kemanusiaan.
Ketegangan ini tidak berdiri sendiri. Hubungan antara Vatikan dan pemerintahan Trump memang telah beberapa kali memanas, terutama terkait isu perang, imigrasi, dan kebijakan global lainnya.
Di sisi lain, Trump bahkan menyebut Paus sebagai sosok yang “lemah” dalam kebijakan dan menilai kritik tersebut tidak tepat dalam situasi konflik internasional yang kompleks.
Perseteruan ini menambah panjang daftar perbedaan pandangan antara pemimpin politik dan pemimpin agama dalam merespons konflik global, khususnya terkait Iran. Kedua pihak pun masih membuka ruang perbedaan tanpa tanda mereda dalam waktu dekat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

















































