Foto ilustrasi banjir Kali Belik, Jogja, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya menekan risiko banjir di Kota Jogja mulai digencarkan setelah sejumlah wilayah kembali terendam akibat hujan berintensitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah setempat kini menyiapkan serangkaian langkah teknis, mulai dari peninggian talud hingga normalisasi sungai untuk memperbesar daya tampung air.
Langkah ini dijalankan di sejumlah titik rawan genangan, termasuk di Rejowinangun dan Prenggan, dengan alokasi anggaran masing-masing Rp3 miliar dari APBD Kota Jogja 2026. Program tersebut menjadi bagian dari rencana lama untuk mengurangi banjir di kawasan Karangsari yang kerap terdampak saat hujan deras turun.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja, Rahmawan Kurniadi, menjelaskan bahwa peninggian talud difokuskan pada jalan di bantaran sungai yang selama ini rawan tergerus dan memicu luapan air.
Selain itu, pelebaran saluran drainase juga akan dilakukan bersamaan dengan normalisasi sungai guna memastikan aliran air tidak lagi terhambat saat debit meningkat.
Penanganan lain turut disiapkan di kawasan Klitren, khususnya di aliran Kali Belik. Proyek ini akan ditangani Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) mulai Agustus 2026 dengan estimasi pengerjaan sekitar 15 bulan.
Di kawasan ini, skema by-pass atau jalur pintas akan diterapkan untuk mengurangi tekanan aliran air. Aliran dari Jalan Colombo akan dialihkan ke saluran baru di Jalan Herman Yohanes, sementara air dari kawasan Galeria diarahkan langsung ke Sungai Code.
“Saluran baru ini dirancang untuk menangkap debit air besar dari hulu, sehingga tidak membebani saluran yang sudah ada,” jelas Rahmawan, Senin (13/4/2026).
Di lapangan, persoalan tidak hanya pada kapasitas saluran, tetapi juga hambatan aliran di sejumlah titik. Rahmawan menyebut kawasan di Kusbini, XT Square, dan Langensari sebagai lokasi yang kerap mengalami bottleneck sehingga air hujan tidak tertampung optimal.
Penumpukan Sampah
Kondisi ini diperparah dengan penumpukan sampah di saluran irigasi terbuka. Sejumlah titik di Jalan Batikan, Jalan Gajah, hingga Jalan Ipda Tut Harsono di Kota Jogja menjadi lokasi yang sering ditemukan sumbatan.
Sampah yang menutup aliran tersebut menyebabkan air meluap hingga ke badan jalan, terutama saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama.
“Sumbatan masih ada karena ada jalur irigasi, ini yang relatif sering tersumbat karena masih terbuka sehingga potensi sampah masuk masih ada. Ini yang kita intensifkan pembersihan potensi sampah masuk di situ. Kebanyakan sumbatan karena sampah sedimentasi masih terkendali,” katanya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, pembersihan saluran akan dilakukan dalam waktu dekat, terutama di titik-titik yang selama ini menjadi langganan genangan.
Di sisi lain, normalisasi sungai juga kembali digerakkan bersama BBWSO. Pengerukan sedimentasi akan dimulai dari Sungai Winongo pada minggu ketiga April 2026.
Langkah ini bertujuan mengembalikan kapasitas tampung sungai agar mampu menahan debit air saat hujan deras, sehingga luapan yang merendam permukiman dapat diminimalkan.
Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap aliran air di Kota Jogja dapat kembali terkendali meski intensitas hujan tinggi masih berpotensi terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































