Studi 12 Tahun Ungkap Pekerja Bergaji Rendah Lebih Rentan Meninggal

6 hours ago 5

Jumali

Jumali Selasa, 18 Agustus 2026 08:47 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Pekerja yang menerima upah rendah menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi sehari-hari. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) pada 2023 menunjukkan bahwa kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang memperoleh upah lebih layak.

Temuan itu berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Mailman School of Public Health Columbia University. Studi tersebut mengikuti perjalanan kerja dan kondisi kesehatan sekitar 4.000 pekerja di Amerika Serikat selama 12 tahun untuk melihat keterkaitan antara tingkat upah, stabilitas pekerjaan, dan kondisi kesehatan jangka panjang.

Data penelitian diambil dari Health and Retirement Study milik University of Michigan yang mencakup periode 1992 hingga 2018. Seluruh peserta penelitian berusia minimal 50 tahun saat pertama kali diamati dan memasuki usia 60-an ketika periode penelitian berakhir.

Risiko Kematian Naik pada Pekerja dengan Upah Rendah

Hasil penelitian menunjukkan pekerja paruh baya yang secara konsisten menerima upah rendah memiliki kemungkinan meninggal dunia 38 persen lebih tinggi selama periode pengamatan dibandingkan kelompok pekerja yang tidak pernah mengalami kondisi serupa.

Risiko tersebut meningkat lebih besar pada kelompok pekerja yang tidak hanya menerima upah rendah secara terus-menerus, tetapi juga menghadapi ketidakstabilan pekerjaan. Kondisi kerja yang sering berubah atau tidak menentu ditemukan berkaitan dengan risiko kematian yang meningkat hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekerja yang memiliki kondisi kerja dan penghasilan yang lebih stabil.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa tingkat pendapatan dan keamanan pekerjaan dapat menjadi faktor yang saling berkaitan dalam memengaruhi kondisi kesehatan seseorang dalam jangka panjang.

Upah Rendah Dinilai Mencerminkan Berbagai Risiko Kesehatan

Hubungan antara kondisi sosial ekonomi dan kesehatan sebenarnya telah lama menjadi perhatian para peneliti. Namun, dalam studi terbaru ini, para penulis menyoroti upah sebagai indikator penting yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan pekerja.

Menurut peneliti, upah tidak hanya mencerminkan besarnya pendapatan yang diterima seseorang. Upah juga menggambarkan jenis pekerjaan yang dijalani, lingkungan kerja yang dihadapi, serta berbagai risiko yang mungkin muncul selama menjalankan pekerjaan tersebut.

Pekerja berupah rendah disebut sebagai salah satu kelompok yang paling rentan di dunia kerja. Mereka lebih banyak ditemukan pada pekerjaan yang memiliki tingkat paparan bahaya lebih tinggi, tekanan kerja yang besar, serta berbagai kondisi yang selama ini diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan.

Lebih Banyak Mengalami Gangguan Kesehatan dan Depresi

Penelitian itu juga menemukan adanya perbedaan kondisi kesehatan yang cukup mencolok antara pekerja berupah rendah dan kelompok pekerja lainnya. Pekerja yang terus-menerus menerima upah rendah lebih sering melaporkan kondisi kesehatan yang buruk atau kurang baik.

Selain itu, kelompok ini juga lebih banyak mengalami gejala depresi dibandingkan pekerja dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Temuan lain menunjukkan lebih banyak pekerja berupah rendah yang tidak pernah memperoleh asuransi kesehatan dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi pekerja berupah rendah tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga menyangkut akses terhadap perlindungan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang.

Upah Disebut Bisa Dipengaruhi Melalui Kebijakan

Para peneliti menilai upah memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sejumlah faktor sosial lain yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Salah satu alasannya karena tingkat upah merupakan faktor yang dapat dipengaruhi melalui kebijakan yang konkret.

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa upah termasuk faktor risiko yang dapat diubah dan berpotensi memberikan dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Perubahan kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja dinilai dapat membantu mengurangi kesenjangan kesehatan yang masih terjadi di berbagai kelompok masyarakat.

Temuan Dinilai Relevan bagi Kondisi Ketenagakerjaan di Indonesia

Temuan penelitian ini memiliki relevansi dengan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang masih diwarnai keberadaan pekerja berupah rendah dan pekerjaan dengan tingkat kepastian yang terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebagian besar pekerja di Indonesia masih bekerja di sektor informal dengan tingkat pendapatan yang tidak selalu stabil serta perlindungan sosial yang terbatas.

Kondisi tersebut membuat isu kesejahteraan pekerja tidak hanya berkaitan dengan daya beli masyarakat, tetapi juga menyangkut aspek kesehatan dan kualitas hidup dalam jangka panjang.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) ini menambah gambaran mengenai keterkaitan antara tingkat upah, kondisi kerja, dan kesehatan pekerja. Dalam studi tersebut, para peneliti menilai bahwa kebijakan terkait kesejahteraan pekerja memiliki posisi penting karena upah merupakan faktor yang dapat dipengaruhi melalui kebijakan dan berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|