Dampak AI pada Lingkungan Ternyata Lebih Besar dari Data Center

3 hours ago 4

Jumali

Jumali Selasa, 18 Agustus 2026 12:07 WIB

Dampak AI pada Lingkungan Ternyata Lebih Besar dari Data Center

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Dampak kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap lingkungan ternyata tidak berhenti pada tingginya kebutuhan listrik untuk mengoperasikan pusat data (data center). Sebuah penelitian terbaru menemukan teknologi AI juga dimanfaatkan industri bahan bakar fosil untuk meningkatkan produksi minyak dan gas, yang berpotensi memperbesar emisi karbon global.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah NPJ Climate Action. Penelitian itu menyoroti bahwa pembahasan mengenai dampak iklim AI selama ini cenderung berfokus pada konsumsi energi pusat data, sementara pengaruh teknologi tersebut terhadap sektor bahan bakar fosil masih jarang dibahas.

Penelitian dipimpin oleh Will Alpine dan Holly Alpine, dua peneliti keberlanjutan yang sebelumnya pernah bekerja di Microsoft. Mereka menilai penggunaan AI oleh perusahaan minyak dan gas berpotensi menciptakan dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan manfaat AI dalam mendukung transisi energi bersih.

AI Digunakan untuk Meningkatkan Produksi Minyak dan Gas

Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa perusahaan energi fosil memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasi, mempercepat eksplorasi, mengoptimalkan pengeboran, hingga meningkatkan keuntungan bisnis.

Teknologi AI memungkinkan perusahaan mengolah data geologi dalam jumlah besar dengan lebih cepat, sehingga proses identifikasi cadangan energi dan pengambilan keputusan operasional menjadi lebih efektif.

Menurut para peneliti, kondisi ini membuat AI tidak hanya menghasilkan emisi secara langsung melalui konsumsi energi pusat data, tetapi juga mendorong peningkatan aktivitas industri yang menghasilkan emisi karbon tinggi.

"Analisis yang dominan meneliti hubungan antara permintaan energi pusat data, optimalisasi energi terbarukan, dan efisiensi dari sisi permintaan, tetapi belum cukup membahas bagaimana AI juga membentuk kembali perekonomian pasokan bahan bakar fosil," tulis para peneliti.

Konsep Enabled Emissions dan Avoided Emissions

Penelitian tersebut memperkenalkan dua istilah utama, yakni enabled emissions dan avoided emissions.

Enabled emissions merujuk pada tambahan emisi yang muncul karena teknologi memungkinkan suatu aktivitas dilakukan lebih cepat, lebih murah, atau dalam skala yang lebih besar. Dalam konteks ini, AI dinilai membantu industri bahan bakar fosil meningkatkan produksi energi berbasis karbon.

Sementara itu, avoided emissions merupakan emisi yang berhasil ditekan berkat penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi atau mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Hasil penelitian menunjukkan emisi tambahan yang dimungkinkan oleh penggunaan AI pada sektor bahan bakar fosil berpotensi tiga hingga 13 kali lebih besar dibandingkan emisi yang dihasilkan operasional pusat data AI.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena selama ini banyak pihak menganggap AI dapat menjadi alat penting dalam mendukung upaya pengurangan emisi dan pengembangan energi bersih.

Hubungan Big Tech dan Industri Energi Fosil

Penelitian itu juga menyoroti semakin eratnya hubungan antara perusahaan teknologi besar dengan sektor minyak dan gas.

Microsoft disebut memiliki kerja sama jangka panjang dengan Chevron melalui proyek pembangkit listrik berbahan bakar gas alam. Sementara Amazon dilaporkan tengah mengembangkan fasilitas energi berbasis bahan bakar fosil dalam skala besar di Amerika Serikat.

Menurut Holly Alpine, sejumlah perusahaan teknologi bahkan memiliki tim khusus yang bekerja langsung bersama perusahaan minyak dan gas untuk mengembangkan solusi berbasis AI.

"Ada tim insinyur dan tenaga penjualan di perusahaan teknologi tersebut yang secara khusus melayani industri bahan bakar fosil," kata Holly Alpine.

Ia menjelaskan para insinyur tersebut membantu menciptakan perangkat lunak dan sistem AI yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas industri energi fosil.

Dampak AI Dinilai Perlu Dilihat Lebih Luas

Para peneliti menilai diskusi mengenai dampak lingkungan AI tidak seharusnya berhenti pada konsumsi listrik pusat data semata. Mereka menegaskan pentingnya melihat bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam berbagai sektor industri.

Menurut mereka, dampak iklim AI tidak hanya berasal dari energi yang dibutuhkan untuk menjalankan model kecerdasan buatan, tetapi juga dari aktivitas ekonomi yang menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien berkat teknologi tersebut.

Karena itu, Will dan Holly Alpine mendorong adanya regulasi dan mekanisme pengawasan yang lebih kuat untuk memastikan perkembangan AI tidak memperburuk krisis iklim global.

Mereka menilai penerapan aturan yang jelas diperlukan agar pemanfaatan AI dapat memberikan manfaat bagi transisi energi bersih tanpa mendorong peningkatan emisi dari sektor bahan bakar fosil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|