
Tangki milik BPBD Gunungkidul pada saat menyalurkan bantuan air bersih ke salah satu bak penampungan air yang dimiliki warga Dusun Sumber, Planjan, Saptosari. Kamis (18/5/2023)./Istimewa-BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— BPBD Gunungkidul mengubah skema penyaluran bantuan air bersih mulai 2026 dengan memprioritaskan penggunaan anggaran milik kapanewon sebelum menggunakan cadangan anggaran BPBD. Perubahan tersebut dilakukan menyusul adanya catatan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait mekanisme distribusi bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan alokasi sekitar 1.500 tangki air bersih untuk membantu masyarakat selama musim kemarau.
Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, distribusi bantuan kini lebih dulu diampu oleh kapanewon yang memiliki anggaran droping air sendiri.
Ada 12 Kapanewon Punya Anggaran Droping
Purwono menjelaskan, dari total 18 kapanewon di Gunungkidul, terdapat 12 kapanewon yang telah memiliki alokasi anggaran khusus untuk distribusi air bersih.
Kapanewon tersebut meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong.
Sementara enam kapanewon lainnya belum memiliki anggaran khusus droping air, yakni Wonosari, Playen, Karangmojo, Semin, Ngawen, dan Saptosari.
“Yang tidak memiliki anggaran droping adalah Wonosari, Playen, Karangmojo, Semin, Ngawen, dan Saptosari,” kata Purwono, Senin (18/5/2026).
Skema Distribusi Tidak Lagi Dibagi per Wilayah
Menurut Purwono, perubahan skema dilakukan menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK pada 2024 yang meminta distribusi bantuan lebih dahulu menggunakan anggaran milik kapanewon.
Pada tahun-tahun sebelumnya, penyaluran bantuan air bersih dibagi berdasarkan wilayah tertentu antara BPBD dan kapanewon.
Sebagai contoh, di Kapanewon Tepus yang memiliki lima kalurahan, tiga kalurahan ditangani kapanewon dan dua lainnya mendapat bantuan langsung dari BPBD.
Namun mulai tahun ini pola tersebut tidak lagi diterapkan.
“Mulai tahun ini berdasarkan catatan BPK tidak bisa lagi. Makanya skemanya berubah dengan seluruhnya diampu kapanewon dan setelah anggaran menipis akan dibantu penyaluran air bersih dari BPBD,” ujar Purwono.
Kemarau Diprediksi Lebih Panjang
BPBD Gunungkidul juga mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama dibanding biasanya.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kering diprediksi berlangsung sekitar tujuh bulan akibat pengaruh fenomena El Nino.
“Mulainya akhir April dan baru memasuki musim hujan lagi pada awal November 2026,” kata Purwono.
Kondisi tersebut membuat potensi kekeringan di sejumlah wilayah Gunungkidul diperkirakan meningkat pada pertengahan tahun.
Panggang Siapkan 329 Tangki Air
Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah kalurahan untuk memetakan wilayah yang rawan kekeringan.
Menurut dia, potensi kekeringan hampir terjadi di seluruh kalurahan di wilayah Panggang, meski hanya pada padukuhan tertentu.
“Kita akan melakukan droping air menggunakan pagu anggaran milik kapanewon,” kata Sri Muryani.
Untuk mendukung distribusi air bersih, Kapanewon Panggang mengalokasikan anggaran sekitar Rp79 juta.
Dana tersebut ditargetkan mampu mendukung distribusi sebanyak 329 tangki air bersih kepada masyarakat terdampak.
Rencananya, distribusi bantuan mulai dilakukan pada Agustus 2026, meski pelaksanaan tetap disesuaikan dengan kondisi kekeringan di lapangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































