Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Sebentar lagi dunia akan melakukan satu ritual yang aneh sekaligus indah. Di kampung-kampung, layar tancap mulai dipasang. Di kafe-kafe, meja sudah dipesan sejak jauh hari.
Di rumah-rumah, televisi dibersihkan, proyektor dipersiapkan, kopi diseduh, gorengan digoreng. Di kota-kota besar hingga desa-desa kecil, jutaan orang bersiap begadang demi menyaksikan satu pertandingan yang sama.
Bahkan FIFA menyiapkan pesta yang belum pernah ada dalam sejarah final Piala Dunia: half-time show ala Super Bowl, menghadirkan Madonna, Shakira, BTS, Justin Bieber, Chris Martin, dan sederet nama besar lainnya. Sepak bola bukan lagi sekadar olahraga. Ia telah menjadi panggung kebudayaan global.
Ada alasan mengapa demam itu mencapai puncaknya pekan ini. Senin dini hari, 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB, mata dunia akan tertuju ke New York New Jersey Stadium ketika Spanyol dan Argentina bertarung memperebutkan mahkota Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Ahad dinihari, Inggris lebih dulu menundukkan Perancis 6:4 dalam laga perebutan peringkat ketiga dan keempat.
Mahkota Piala Dunia itu bukan sekadar soal prestise bagi tim suatu negara. FIFA menyiapkan hadiah bagi juara yang belum pernah sebesar ini. Juara Piala Dunia 2026 akan membawa pulang hadiah prestasi US$50 juta, runner-up US$33 juta, peringkat ketiga US$29 juta, dan peringkat keempat US$27 juta. Itu di luar dana partisipasi dan persiapan yang diterima setiap peserta.
Untuk pertama kalinya pula dalam sejarah Piala Dunia, partai final akan diselingi half-time show resmi dengan penampilan sejumlah musisi kelas dunia. Panggung olahraga, hiburan, dan emosi miliaran manusia akan menyatu dalam satu malam yang dipastikan menjadi salah satu peristiwa global terbesar tahun ini.
Namun, di balik gemerlap konser, sorak penonton, dan pesta cahaya, sesungguhnya hanya ada satu pertanyaan yang sedang dipertandingkan: "siapa yang paling layak menang?"
Seluruh tim datang dengan tujuan yang sama. Tidak ada negara yang terbang ribuan kilometer hanya untuk menjadi peserta. Tidak ada pelatih yang menyusun strategi hanya agar timnya dikenang sebagai semifinalis. Semua datang mengejar kemenangan. Juara adalah simbol keberhasilan yang paling konkret. Dalam bahasa kehidupan, kemenangan adalah impian yang selalu dikejar manusia.
Tetapi justru karena kemenangan begitu berharga, di situlah godaan terbesar muncul. Semakin besar hadiah yang diperebutkan, semakin besar pula godaan untuk mencari jalan pintas. Di situlah fair play diuji: ketika harga sebuah kemenangan begitu mahal, masihkah orang bersedia menang dengan cara yang benar?
Permainan apa pun selalu memiliki aturan. Anak-anak yang bermain petak umpet memiliki kesepakatan. Permainan catur mempunyai hukum yang tak boleh dilanggar. Bahkan permainan kartu di warung kopi pun akan bubar bila ada pemain yang diam-diam menyelipkan kartu dari lengan bajunya. Tanpa aturan, permainan berubah menjadi perkelahian. Tanpa hukum, pertandingan kehilangan makna.
Karena itu, inti sebuah pertandingan bukan pertama-tama siapa yang menang, melainkan apakah kemenangan itu lahir melalui jalan yang benar.
Di sinilah istilah fair play menemukan ruhnya. Banyak orang menerjemahkannya sekadar "bermain sportif". Padahal maknanya jauh lebih dalam. Fair play adalah kesediaan menahan diri ketika kesempatan berbuat curang sebenarnya terbuka lebar. Ia adalah kemenangan atas diri sendiri sebelum kemenangan atas lawan.
Psikologi manusia justru sering bergerak ke arah sebaliknya. Ketika hadiah semakin besar, otak semakin pandai mencari pembenaran. Dalam psikologi moral dikenal gejala motivated reasoning: manusia tidak selalu mencari kebenaran, melainkan mencari alasan agar keinginannya tampak benar. Keinginan menang dapat membuat pelanggaran terlihat kecil, manipulasi dianggap strategi, bahkan kebohongan dibungkus sebagai kecerdikan.
Karena itu setiap pertandingan membutuhkan tiga pagar sekaligus. Pagar pertama adalah hukum. Dalam sepak bola, ia bernama Laws of the Game. Wasit bukan musuh pemain. Ia adalah penjaga agar pertandingan tetap menjadi pertandingan.
Ketika IFAB menetapkan durasi turun minum maksimal lima belas menit, itu bukan soal angka. Itu menunjukkan bahwa bahkan pesta hiburan pun harus tunduk kepada aturan yang disepakati bersama. Hukum hadir bukan untuk menghalangi kemenangan, melainkan memastikan kemenangan memiliki kehormatan.
Pagar kedua adalah teknologi. VAR lahir karena mata manusia terbatas. Kamera tidak punya klub favorit. Komputer tidak mengenal tepuk tangan penonton. Teknologi berusaha memperkecil ruang kesalahan manusia.
Memang, VAR tidak menghapus seluruh perdebatan karena keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Namun ia mengurangi peluang ketidakadilan yang dulu sering tersembunyi di balik keterbatasan pandangan wasit.
Tetapi pagar ketiga justru yang paling menentukan: pengawasan publik. Era digital membuat stadion tidak lagi hanya berkapasitas delapan puluh ribu orang. Stadion terbesar sekarang bernama internet. Setiap pelanggaran direkam dari puluhan sudut kamera. Setiap keputusan dianalisis jutaan orang dalam hitungan menit. Media sosial menjadikan dunia seperti ruang sidang raksasa yang nyaris tidak pernah tidur.
Itulah sebabnya, ketika muncul kontroversi mengenai Argentina dalam Piala Dunia kali ini, ia segera berubah menjadi badai global. Petisi yang dikabarkan mengumpulkan jutaan tanda tangan menuduh FIFA dan perangkat pertandingan memberi perlakuan istimewa kepada Lionel Messi.
Sebaliknya, pelatih Argentina membantah keras dan menegaskan bahwa di era VAR sangat sulit melakukan keberpihakan secara sistematis. Terlepas siapa yang benar, satu hal menjadi jelas: kepercayaan publik kini sama berharganya dengan trofi itu sendiri.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

12 hours ago
3











































