Rupiah Menguat ke Rp 17.860 per Dolar AS, BI Sebut Aliran Modal Asing Meningka

8 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berangsur membaik meninggalkan level Rp 18.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menyampaikan penguatan rupiah terjadi seiring diberlakukannya berbagai bauran kebijakan yang mendorong masuknya aliran modal asing.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup menguat 128,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp 17.860 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026). Mata Uang Garuda sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di atas Rp 18.000 per dolar AS pada pengujung pekan lalu. Kini, rupiah perlahan rebound.

“Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup pada level Rp 17.865/17.875 per dolar AS atau menguat sebesar 0,84 persen dibandingkan penutupan pada Jumat (5/6/2026) di level Rp 18.010/18.020 per dolar AS. Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan resmi kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).

Destry menyebut kebijakan tersebut meliputi kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.

“Pasca-kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif yang didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik. Tingginya minat investor global tecermin dari peningkatan inflow transaksi SRBI nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN) yang pada 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun. Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp 26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” jelasnya.

Destry melanjutkan, seiring perkembangan tersebut, ketahanan eksternal Indonesia diyakini tetap solid. Hal itu semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara BI, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Terdapat tiga kesepakatan yang dihasilkan, yakni sinergi untuk memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara, tetapi juga stabilitas keuangan regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

“Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” tegasnya.

Destry menekankan BI akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya,” ungkapnya.

Diketahui, BI menghitung nilai fundamental rupiah secara rata-rata berada di level Rp 16.500 per dolar AS, dengan batas bawah Rp 16.200 per dolar AS dan batas atas Rp 16.800 per dolar AS.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|