MPR RI: Identitas Budaya Tau Samawa adalah Kekayaan Nasional

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM, – Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, Johan Rosihan, menegaskan bahwa identitas budaya Tau Samawa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kekayaan kebudayaan nasional. Hal ini disampaikannya dalam sarasehan kebudayaan bertema "Budaya dan Identitas Tau Samawa" yang dihadiri 150 peserta dari berbagai kalangan di Sumbawa, Sabtu.

Johan Rosihan menjelaskan bahwa MPR RI memandang kebudayaan sebagai bagian penting dari penguatan karakter bangsa. Kata "tau" sendiri berasal dari bahasa Sumbawa yang berarti orang atau manusia, sedangkan "samawa" adalah sebutan atau nama lain dari daerah Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Anggota DPR RI dari Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa ini menilai ruang-ruang dialog seperti sarasehan kebudayaan perlu terus dihadirkan. Tujuannya agar nilai-nilai lokal dapat didokumentasikan, dikaji secara ilmiah, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Keberagaman budaya merupakan kekuatan bangsa Indonesia. MPR RI berkepentingan agar nilai-nilai lokal seperti yang dimiliki masyarakat Tau Samawa terus hidup dan menjadi bagian dari pembangunan karakter kebangsaan," ujarnya.

Identitas Budaya sebagai Proses Sosial

Akademisi Rusli Cahyadi mengungkapkan bahwa identitas Tau Samawa bukanlah identitas yang bersifat statis ataupun semata-mata diwariskan karena kelahiran. Ia mengacu pada penelitian antropolog Peter R. Goethals mengenai Desa Rarak di Sumbawa.

"Identitas dipahami sebagai proses sosial yang terus dibangun melalui keterlibatan seseorang dalam kehidupan masyarakat," kata Rusli. Penelitian Goethals menemukan sedikitnya dua belas indikator yang menunjukkan seseorang benar-benar menjadi bagian dari komunitas.

Indikator tersebut mencakup hubungan kekerabatan, kepemilikan tanah, keterlibatan dalam pertanian, aktivitas keagamaan, hingga partisipasi dalam kewajiban sosial seperti ronda, pembayaran pajak, dan keterlibatan dalam kehidupan adat. "Keseluruhan unsur tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya lahir dari praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar status administratif," tegasnya.

Rusli juga mengangkat konsep lokal "Satama Djiwa dalam Karang. Nyenan," yakni ungkapan yang menggambarkan seseorang telah "memasukkan jiwanya" ke dalam komunitas. Konsep ini menunjukkan bahwa penerimaan sebagai bagian dari masyarakat diperoleh melalui pengabdian, keterlibatan, dan pengakuan sosial.

Budaya sebagai Fondasi Masa Depan

Sementara itu, Seniman Sumbawa Iqbal Sanggo menekankan bahwa kebudayaan Tau Samawa tidak boleh dipandang hanya sebagai peninggalan masa lalu. Menurutnya, kebudayaan harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan.

Nilai gotong royong, penghormatan terhadap adat, religiusitas, dan solidaritas sosial merupakan modal budaya yang harus diwariskan kepada generasi muda. Hal ini penting agar nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Iqbal mengingatkan bahwa modernisasi bukan alasan untuk meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadikan kebudayaan sebagai fondasi dalam membangun karakter sekaligus memperkuat daya saing daerah di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|