Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Ada ilmu yang mula-mula tinggal di buku. Ada pula ilmu yang bertahun-tahun tinggal di telinga. Nagham atau lagu Al-Qur’an termasuk yang kedua.
Seorang murid duduk di depan guru, mendengar, menirukan, salah, dibetulkan, lalu mengulanginya entah berapa ratus kali. Tak ada grafik. Tak ada diagram. Kadang bahkan tidak ada penjelasan panjang.
Guru cukup berkata, “Bukan begitu naiknya.” Lalu ia membaca. Murid mendengar. Begitulah sebuah pengetahuan berpindah dari dada ke dada, dari bibir ke bibir para santri.
KH Mudrik Qori rupanya ingin membawa pengetahuan yang hidup dalam telinga itu ke dunia akademik. Dan Selasa, 28 Juli 2026, Mudir ‘Aam Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Sumatera Selatan, itu mempertahankan disertasi doktornya di Universitas Muhammadiyah Malang.
Judul penelitiannya cukup panjang: “Model Pembelajaran Nagham Al-Qur’an Syekh Musthafa Ismail di Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan.”
Bagi saya, yang menarik bukan gelar doktornya, meskipun doktor bidang khusus ini mungkin belum banyak. Yang menarik adalah tema kajian yang dibawanya ke ruang sidang: lagu alias nagham Al-Qur’an.
Lebih tepat lagi, ia mengkaji dan memetakan salah satu suara paling ajaib dalam sejarah tilawah modern: Syeikh Musthafa Ismail.
Bagi orang yang tumbuh dalam lingkungan MTQ, nama itu hampir seperti nama sebuah mazhab. Musthafa Ismail, qari Mesir kelahiran Mit Ghazal pada 17 Juni 1905 dan wafat 26 Desember 1978, bukan sekadar pemilik suara merdu.
Sumber-sumber Mesir menjulukinya malik al-maqamat, raja maqam. Harian Al-Ahram mencatat Musthafa Ismail membaca qiraat dengan lebih dari 19 maqam beserta percabangannya.
Ia juga dikenal memiliki napas panjang, keluasan ilmu qiraat, dan kemampuan berpindah maqam dengan keluwesan yang membuat pendengar terpukau dan bersiutan.
Saat mendengar, mereka kadang tidak sadar bahwa “kendaraan” musikal sang qari sudah berganti. Ia tidak terdengar seperti orang memindahkan persneling. Tahu-tahu kita sudah berada di jalan lain.
Itulah keistimewaannya. Banyak orang mempunyai suara lebih bulat. Ada yang lebih menggelegar. Ada yang lebih bening.
Tapi Musthafa Ismail seperti arsitek yang kebetulan bekerja dengan suara. Ia tak hanya mempunyai batu bata; ia tahu kapan membuat pintu masjid, kapan menaikkan kubah, dan kapan membiarkan sebuah lorong gelap agar cahaya di ujungnya terasa lebih terang.
Karena itu, maqam di tangannya bukan kosmetik yang ditempelkan pada ayat. Ia menjadi semacam perangkat tafsir bunyi.
Ayat ancaman tak diperlakukannya sama dengan ayat rahmat. Kisah tidak selalu diberi warna yang sama dengan perintah. Ketika makna bergerak, suara ikut bergerak.
Musik tidak menyeret Al-Qur’an mengikutinya; musiklah yang diperintah mengikuti Al-Qur’an. Perbedaannya tipis di telinga, tapi sangat besar secara teologis.
Di sinilah penelitian KH Mudrik Qori menjadi menarik. Dari analisis rekaman autentik, praktik pembelajaran, dan jalur transmisi guru, ia mengidentifikasi tiga bentuk variasi yang disebut ma’zul, tahwil, dan takhlith.
Dalam konstruksi penelitiannya, ma’zul berhubungan dengan pengembangan frase nagham yang memungkinkan pergeseran rasa tanpa meninggalkan karakter maqam utama. Tahwil merupakan perpindahan atau modulasi dari satu maqam menuju maqam lain. Sedangkan takhlith memadukan unsur beberapa maqam dalam satu rangkaian tilawah.
Bagi orang awam, mungkin lebih mudah membayangkannya seperti orang mengemudikan mobil di pegunungan.
Ma’zul adalah memainkan kendaraan di jalur yang sama. Tahwil adalah berpindah jalur. Takhlith lebih rumit: beberapa karakter jalan dimanfaatkan dalam satu perjalanan.
Masalahnya, pengemudinya harus sangat mahir. Salah sedikit, mobil bisa masuk kebun orang.
Musthafa Ismail adalah pengemudi yang membuat tikungan berbahaya tampak seperti jalan lurus.
Yang dilakukan Kiai Mudrik pada dasarnya mencoba menggambar peta perjalanan itu.
Selama puluhan tahun, banyak qari belajar Musthafa Ismail dengan cara paling tua dalam peradaban manusia: mendengar dan meniru.
Rekaman diputar. Sebuah frase diulang. Naikannya ditiru. Turunannya dikejar. Kadang berhasil, kadang yang tertangkap hanya kulitnya.
Murid bisa meniru suara, tapi belum tentu memahami logika di belakang suara. Disertasi ini mengajukan pertanyaan penting: mungkinkah logika itu diajarkan?
Pertanyaan tersebut lebih besar dari urusan MTQ. Ia menyentuh persoalan klasik pendidikan tradisional: bagaimana mengubah pengetahuan tersirat menjadi pengetahuan yang dapat diterangkan tanpa merusak tradisinya.
Orang pesantren mengenal persoalan itu. Seorang kiai kadang mampu membaca kitab dengan ketepatan luar biasa, tapi ketika ditanya algoritma berpikirnya, jawabannya sederhana: “Ya begitu.”
Bukan karena ia tidak tahu. Justru pengetahuan itu sudah terlalu menyatu dengan dirinya. Seperti orang berjalan yang tidak lagi menghitung kapan kaki kanan harus maju dan kaki kiri harus menyusul.
Dalam ilmu pengetahuan modern, hal semacam ini sering disebut tacit knowledge: pengetahuan yang kita kuasai, tapi tidak seluruhnya mudah kita uraikan menjadi petunjuk tertulis.
Michael Polanyi merumuskannya dengan kalimat terkenal: kita mengetahui lebih banyak dari yang dapat kita katakan. Pesantren mengenalnya jauh sebelum istilah itu masuk jurnal manajemen pengetahuan. Namanya sederhana: berguru.
Karena itulah sanad Kiai Mudrik penting. Ia tidak mendatangi Musthafa Ismail hanya melalui YouTube. Ia mula-mula belajar kepada ayahnya, KH Ahmad Qori Nuri, kemudian kepada KH Sayyid Muhammad Assirri, guru nagham PTIQ dan IIQ Jakarta yang disebut sebagai murid langsung Syekh Musthafa Ismail.
Ia juga mendapat inspirasi melalui KH Moersjied Qorie Indra yang memiliki jalur pembelajaran kepada murid Musthafa Ismail. Rekaman kemudian dipertemukan dengan transmisi guru.
Ini perjumpaan yang menarik: sanad bertemu metodologi. Keduanya kadang dipertentangkan secara ceroboh. Seolah yang tradisional pasti tidak ilmiah, sementara yang ilmiah harus membuang tradisi.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
2
















































