
Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh level Rp18.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan nyata bagi pelaku ekspor di DIY. Kenaikan biaya bahan baku impor, material pendukung produksi, hingga ongkos logistik internasional membuat pelaku usaha harus bekerja ekstra menjaga keberlangsungan bisnis di tengah ketidakpastian kurs.
Dampak pelemahan rupiah tersebut dirasakan langsung oleh eksportir kerajinan dan dekorasi rumah asal Jogja. Dalam dua bulan terakhir, sejumlah kebutuhan produksi yang masih bergantung pada bahan impor mengalami lonjakan harga cukup signifikan sehingga menggerus margin keuntungan usaha.
Pemilik CV Woodeco Indonesia, Agung Setiawan, mengatakan tekanan akibat melemahnya nilai tukar rupiah sebenarnya sudah mulai terasa sejak beberapa bulan terakhir. Usaha yang bergerak di bidang craft dan home decor itu menghadapi kenaikan harga pada berbagai bahan finishing yang masih mengandalkan produk impor, seperti thinner dan bahan pelapis lainnya.
"Bahan finishing sudah naik cukup banyak. Selain itu bahan pengemasan seperti styrofoam, bubble wrap, dan foam juga ikut naik," katanya, Jumat (12/6/2026).
Menurut Agung, kenaikan harga bahan finishing bahkan telah menembus lebih dari 30%. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat cukup tajam di saat pasar ekspor masih menghadapi persaingan yang ketat.
Di sisi lain, eksportir tidak memiliki keleluasaan untuk langsung menyesuaikan harga jual produk. Sebagian besar transaksi dengan pembeli luar negeri telah disepakati jauh hari sebelumnya sehingga tambahan biaya akibat pelemahan rupiah harus ditanggung oleh produsen.
"Kalau ekspor tidak bisa langsung menaikkan harga. Akibatnya margin keuntungan berkurang cukup besar. Dulu margin bisa 10-20%, sekarang margin 10% saja sudah bagus," katanya.
Tak hanya bahan baku, biaya logistik internasional juga menjadi beban tambahan yang harus dihadapi eksportir. Tarif pengiriman kontainer mengalami kenaikan, sementara waktu tempuh pengiriman melalui jalur laut semakin panjang dibandingkan sebelumnya.
"Dulu pengiriman sekitar 20 hari, sekarang bisa sampai 45 hari. Karena itu banyak pembeli yang meminta barang dikirim menggunakan pesawat meskipun biayanya lebih mahal," ujarnya.
Menurut Agung, permintaan pengiriman lewat jalur udara umumnya terjadi pada produk berukuran kecil seperti home decor, kerajinan kayu, tableware, dan kitchenware yang dipasarkan ke negara-negara Eropa serta Amerika Serikat.
Untuk menekan kenaikan biaya produksi, perusahaan melakukan sejumlah langkah penyesuaian operasional. Salah satu strategi yang diterapkan adalah mengubah pola kerja tenaga produksi dari sistem harian menjadi sistem borongan guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
"Kalau dulu harian, sekarang lebih banyak sistem borongan. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menyesuaikan dengan kondisi biaya produksi yang terus naik," jelasnya.
Ia menilai pelemahan rupiah menjadi tantangan serius, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Setiap kenaikan kurs dolar tidak hanya memengaruhi harga bahan baku impor, tetapi juga berdampak pada keseluruhan rantai produksi dan distribusi.
"Untuk order baru, UKM harus benar-benar berhitung. Bahan baku naik, margin semakin tipis, biaya lain juga meningkat. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar ekspor tetap berjalan," katanya.
Agung berharap stabilitas nilai tukar rupiah dapat terus dijaga agar dunia usaha memiliki kepastian dalam menyusun strategi bisnis. Menurutnya, kestabilan kurs sangat penting untuk menjaga daya saing produk ekspor Indonesia sekaligus membantu pelaku usaha menghitung kebutuhan produksi secara lebih akurat.
"Harapan kami sederhana, rupiah bisa lebih stabil. Kalau terus melemah, bahan baku nonlokal ikut naik dan pelaku usaha semakin kesulitan untuk menghitung biaya produksi," katanya.
Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi perhatian pelaku ekspor di berbagai sektor. Selain meningkatkan biaya bahan baku impor, kondisi tersebut juga berpotensi menekan daya saing usaha jika berlangsung dalam jangka panjang, terutama bagi UKM yang mengandalkan pasar ekspor sebagai sumber utama pendapatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































