REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi seiring peningkatan harga minyak dunia. Tak hanya itu, terdapat proyeksi semakin melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 44,5 poin atau 0,25 persen menuju level Rp 17.988,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026).
"Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memproyeksikan defisit APBN 2026 Indonesia akan melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal, yaitu 3 persen berdasarkan produk domestik bruto (PDB)," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah. Dalam asumsi APBN 2026, defisit dipatok di level 2,7 persen dari PDB. Angka proyeksi defisit 3 persen pada 2026 ini juga tercatat meningkat dibandingkan dengan realisasi defisit pada 2025 yang berada di level 2,9 persen dari PDB. Pelebaran defisit ini utamanya dipicu oleh tekanan harga komoditas global.
"Harga minyak yang lebih tinggi diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB melalui peningkatan belanja subsidi BBM, apabila penahanan harga BBM bersubsidi dipertahankan. OECD mencatat bahwa pemerintah Indonesia telah memberi sinyal kuat untuk mempertahankan defisit tetap berada di bawah pagu aman 3 persen dari PDB," terangnya.
Ibrahim menuturkan, untuk merealisasikan komitmen tersebut, pemerintah diyakini harus mengambil langkah kompensasi atau bauran kebijakan sebesar 0,3 persen dari PDB. Langkah tersebut termasuk pemangkasan pengeluaran di sektor lain serta potensi pengenaan pajak durian runtuh (windfall taxes) kepada eksportir komoditas unggulan Tanah Air.
Ibrahim menuturkan, dari sisi makroekonomi, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke level 4,7 persen pada 2026, sebelum kembali pulih ke level 5 persen pada 2027.
"Pelemahan laju pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang diperkirakan akan membebani konsumsi maupun investasi, di tengah proyeksi pelemahan pasar tenaga kerja," jelasnya.
Sementara itu, laju inflasi diproyeksikan akan merangkak naik ke posisi 3,4 persen pada 2026. Kenaikan itu dipicu oleh transmisi bertahap dari tingginya harga energi global ke harga-harga domestik, meskipun pemerintah saat ini masih membekukan harga bahan bakar bersubsidi.

8 hours ago
4

















































