REPUBLIKA.CO.ID,JATINANGOR – Percakapan publik mengenai Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak lagi semata dibentuk oleh pemerintah atau media massa. Di era digital, algoritma media sosial turut berperan menentukan isu apa yang mendapat perhatian, bagaimana isu berkembang, hingga sejauh mana pesan memperoleh resonansi di ruang publik.
Temuan tersebut diungkap dalam disertasi doktoral Rustika Nur Istiqomah atau yang dikenal dengan Rustika Herlambang pada Sidang Promosi Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran melalui penelitian berjudul Algorithmic Intermedia Agenda-Setting dalam Isu Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN): Analisis Big Data Media Daring, Twitter/X, TikTok, serta Mekanisme Agenda-Building Pemerintah (2020–2024), Selasa (7/7/2026).
Penelitian ini menganalisis dinamika percakapan digital mengenai IKN selama lima tahun, mulai 2020 hingga 2024, dengan memanfaatkan pendekatan Computational Social Science berbasis big data. Berbeda dengan banyak penelitian komunikasi yang menggunakan sampel, studi ini mengolah keseluruhan populasi data (N=all) dari media daring, Twitter/X, dan TikTok selama sekitar 1.827 hari untuk memetakan bagaimana agenda publik terbentuk di era algoritmik.
Menurut Rustika, teori agenda-setting selama ini menempatkan pemerintah, media massa, dan publik sebagai aktor utama pembentuk opini publik. Namun, dalam ekosistem digital, algoritma platform juga menjadi faktor yang menentukan visibilitas suatu isu.
"Agenda publik tidak lagi dimonopoli oleh satu aktor. Ia terbentuk melalui interaksi antara manusia dan teknologi, termasuk algoritma yang mengatur rekomendasi konten, trending topic, hingga fitur For You Page," ujar Rustika dalam sidang promosi doktor.
Salah satu temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi digital tidak lagi ditentukan oleh banyaknya konten yang dipublikasikan. Menurut Rustika, penelitian menemukan bahwa konten yang diproduksi dalam jumlah besar belum tentu menjadi perhatian publik. Sebaliknya, pesan dengan jumlah publikasi yang lebih sedikit dapat memperoleh resonansi yang jauh lebih tinggi apabila hadir pada momentum yang tepat, dikemas dalam format yang sesuai dengan karakter platform, serta diperkuat oleh mekanisme distribusi algoritmik.
Dalam penelitian ini, resonansi diukur melalui berbagai bentuk keterlibatan publik, seperti komentar, likes, shares, retweet, maupun interaksi digital lainnya. "Di ruang digital saat ini, perhatian publik menjadi sumber daya yang sangat kompetitif. Yang menentukan bukan hanya seberapa banyak pesan dipublikasikan, tetapi seberapa besar resonansi yang berhasil dibangun," jelas Rustika yang juga Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) tersebut.

7 hours ago
6














































