
Ribuan warga mengikuti Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng di Kraton Jogja pada Selasa (16/6/2026)./ Harian Jogja-Stefani Yulindriani
Harianjogja.com, JOGJA—Ribuan masyarakat memadati kawasan Benteng Keraton Jogja untuk mengikuti Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng pada malam 1 Sura Be 1960, Selasa (16/6/2026).
Tradisi tahunan menyambut Tahun Baru Jawa itu tidak hanya diikuti warga DIY, tetapi juga peserta dari berbagai daerah yang ingin merasakan pengalaman spiritual melalui ritual berjalan kaki dalam keheningan atau topo bisu.
Antusiasme peserta terlihat sejak sebelum pemberangkatan. Banyak di antara mereka datang mengenakan pakaian adat Jawa sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut.
Salah seorang peserta asal Jepara, Siti Korimah, 47, mengaku baru pertama kali mengikuti Mubeng Beteng. Ketertarikannya muncul setelah melihat berbagai unggahan mengenai tradisi tersebut di media sosial.
"Baru pertama kali ikut. Awalnya penasaran sebenarnya Mubeng Beteng itu apa dan maknanya seperti apa. Setelah lihat di TikTok jadi ingin ikut langsung," ujarnya.
Siti datang bersama dua rekannya dan telah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Selain membawa pakaian tradisional dari rumah, ia juga rutin berolahraga untuk menghadapi perjalanan yang menempuh jarak sekitar lima kilometer.
Menurutnya, daya tarik utama Mubeng Beteng terletak pada nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Ia mengetahui bahwa peserta dianjurkan tidak berbicara, makan, maupun minum selama perjalanan berlangsung.
"Kami ingin merasakan langsung bagaimana suasana refleksi dan doa yang menjadi bagian dari tradisi ini," katanya.
Minat serupa juga ditunjukkan Surya Herdianto, 30, warga Sleman. Bersama sejumlah temannya, ia mengikuti Mubeng Beteng untuk pertama kali sambil mengenakan pakaian adat Jawa.
"Kami baru pertama kali ikut. Sekalian ngajak teman-teman pakai pakaian adat biar lebih keren, sekaligus memahami makna tradisi ini lebih dalam," ujarnya.
Bagi sebagian warga, Mubeng Beteng bahkan dianggap sebagai pengalaman yang perlu dicoba setidaknya sekali seumur hidup. Hal itu diungkapkan Puput Fikyfendy, 30, warga Sleman.
"Sebagai warga Jogja, rasanya perlu ikut tradisi malam Suronan ini. Ini bagian dari tradisi Jawa yang rutin dilaksanakan setiap tahun," katanya.
Puput mengaku tidak melakukan persiapan khusus selain beristirahat cukup sebelum mengikuti kegiatan yang berlangsung hingga dini hari.
Di kalangan generasi muda, tradisi ini juga dinilai masih relevan dengan kehidupan masa kini. Amalia Nurul, warga Jogja, memutuskan kembali mengikuti Mubeng Beteng setelah terakhir kali mengikutinya sekitar 2013 atau 2014 saat masih menjalani tugas kuliah.
"Tahun ini saya ikut lagi karena ingin merasakan suasana ritualnya secara sungguh-sungguh. Kalau dulu ikut karena tugas kuliah, jadi belum benar-benar mendapat vibes-nya," ujarnya.
Menurut Amalia, topo bisu menjadi sarana untuk melakukan evaluasi diri atas berbagai pengalaman selama setahun terakhir. Keheningan selama perjalanan memberi ruang untuk merenungkan langkah hidup yang telah dijalani dan memperbaiki hal-hal yang masih kurang.
"Saya memaknainya sebagai momen muhasabah, merenungkan apa yang sudah dilakukan selama setahun, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus ditingkatkan," katanya.
Ia menilai konsep tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tren healing dan meditasi yang populer di kalangan anak muda saat ini.
"Kalau anak muda sekarang mengenal healing atau meditasi, sebenarnya topo bisu Mubeng Beteng ini juga bentuk meditasi. Bedanya dilakukan sambil berjalan kaki, diam, dan merenung. Jadi semacam healing yang berakar dari budaya Jawa," ujarnya.
Bagi Amalia, persiapan terpenting bukanlah kondisi fisik, melainkan kesiapan batin untuk menjalani ritual dengan penuh kesadaran.
"Persiapan utamanya ya menata hati, mengurangi prasangka dan amarah supaya bisa lebih tenang saat menjalani perjalanan," katanya.
Tingginya partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang menunjukkan bahwa Mubeng Beteng tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi ruang refleksi yang tetap relevan bagi generasi masa kini.
Di tengah arus modernisasi, tradisi tersebut mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang mempertemukan nilai budaya, perenungan diri, dan kebersamaan dalam suasana hening menyambut Tahun Baru Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































