Kapal kargo bersandar di kawasan pelabuhan dan industri maritim Batam, Kepulauan Riau, Rabu (14/1/2026). Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 di kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam mencapai Rp54,7 triliun atau sekitar 91 persen dari target tahunan sebesar Rp60 triliun.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Hubungan Indonesia dan Singapura dinilai sedang memasuki fase baru. Bukan sekadar hubungan dagang atau investasi, tetapi hubungan dua negara bertetangga yang sama-sama sedang menyesuaikan diri dengan perubahan besar ekonomi kawasan.
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengatakan, Indonesia dan Singapura memiliki hubungan yang sangat panjang.
Kedua negara bukan hanya dekat secara geografis, tetapi juga terhubung oleh sejarah, budaya, perdagangan, dan hubungan antarmasyarakat.
“Indonesia dan Singapura itu seperti tetangga yang rumahnya sangat dekat. Hubungannya panjang, saling membutuhkan, tetapi justru karena terlalu dekat, kadang ada panas dinginnya,” kata Azis dalam keterangannya.
Menurut Azis, jauh sebelum batas negara modern terbentuk, kawasan Selat Malaka sudah menjadi jalur peradaban.
Pedagang dari berbagai wilayah Nusantara bergerak melalui perairan yang sama. Bahasa, budaya, dan tradisi saling memengaruhi.
Namun dalam perjalanan modern, kata dia, Indonesia dan Singapura berkembang dengan karakter berbeda. Indonesia lahir dari revolusi dan kesadaran sebagai bangsa besar. Singapura tumbuh sebagai negara kecil yang harus cermat membaca perubahan dunia.
“Yang satu belajar mengelola kelimpahan, yang satu belajar mengelola keterbatasan. Dua-duanya punya kekuatan masing-masing,” ujarnya.

2 hours ago
4














































