
Sejumlah karya foto yang dipamerkan oleh mahasiswa Fotografi ISI Jogja dalam Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 bertajuk Prime Time, Kamis (11/6/2026).
Harianjogja.com, BANTUL—Isu lingkungan menjadi sorotan dalam Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 bertajuk Prime Time yang digelar mahasiswa Program Studi Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja pada 11-14 Juni 2026. Melalui puluhan karya tugas akhir, mahasiswa menghadirkan potret nyata tentang upaya masyarakat menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari abrasi pantai hingga krisis air bersih.
Sebanyak 32 karya fotografi dipamerkan dalam ajang tersebut. Beragam cerita ditampilkan, termasuk kehidupan masyarakat pesisir yang terus berjuang menghadapi abrasi, komunitas yang memanfaatkan air hujan sebagai sumber air alternatif, hingga masyarakat adat yang menjaga kelestarian alam melalui kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu karya yang mencuri perhatian pengunjung adalah proyek dokumenter karya Rahid Putra Laksana yang mengangkat dampak abrasi di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi. Selama satu tahun, Rahid mendokumentasikan kehidupan warga yang harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan akibat daratan yang terus terkikis.
"Yang ingin saya tunjukkan bukan hanya kerusakan lingkungannya, tetapi bagaimana masyarakat tetap bertahan dan beradaptasi di tengah kondisi tersebut," ujar Rahid, Kamis (11/6/2026).
Menurut Rahid, persoalan abrasi di Kampung Beting masih belum banyak dikenal publik, padahal dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir tersebut setiap hari.
"Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu cara untuk menyuarakan persoalan abrasi yang terjadi di Kampung Beting agar lebih banyak diketahui masyarakat luas," katanya.
Sementara itu, isu krisis air bersih menjadi fokus karya dokumenter Rizmi Azza Aqiffina yang mengangkat aktivitas Komunitas Banyu Bening melalui Gerakan Memanen Air Hujan. Dalam karya tersebut, Azza merekam proses pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif bagi masyarakat.
Menurut Azza, potensi air hujan di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan lebih optimal mengingat tingginya curah hujan yang terjadi di berbagai wilayah.
"Krisis air bersih masih menjadi persoalan di berbagai daerah. Padahal Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga air hujan sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air," ujarnya.
Selain menampilkan proses pemanenan air hujan, karya tersebut juga mendokumentasikan berbagai kegiatan edukasi lingkungan dan aksi konservasi yang dijalankan Komunitas Banyu Bening untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
"Melalui karya ini saya ingin menunjukkan bahwa air hujan dapat menjadi solusi yang nyata untuk membantu mengatasi persoalan krisis air bersih jika dikelola dengan baik," katanya.
Pekan Fotografi Sewon #19 dibuka pada Kamis (11/6) pukul 15.00 WIB di Gedung Auvi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta. Pameran berlangsung hingga 14 Juni 2026 dan menghadirkan berbagai karya fotografi yang merekam upaya masyarakat dalam menghadapi krisis lingkungan, konservasi sumber daya alam, hingga strategi adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan yang terjadi di berbagai daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































