Pariwisata Indonesia: Megah di Luar, Rapuh di Dalam

7 hours ago 4

Image

Sastra | 2026-02-16 10:02:21

Ditulis Oleh : Heryanti Utami

Tampaknya Indonesia sekarang sedang merasa lebih percaya diri di pasar pariwisata global. Indonesia sering disebut sebagai salah satu tempat wisata terbaik di dunia. Destinasi pariwisata Indonesia terus menerima berbagai penghargaan di seluruh dunia, mulai dari destinasi budaya terbaik hingga kekayaan alam tropis yang memukau. Indonesia semakin dikenal sebagai negara dengan ribuan pulau, ratusan tradisi, dan alam yang menakjubkan. Namun, di balik pencapaian yang luar biasa, ada fakta yang tidak sepenuhnya sejalan dengan cerita yang dipromosikan. Berikut adalah kumpulan penghargaan yang diterima oleh Indonesia dalam bidang pariwisata:

Sumber: ANTARA News

Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata Indonesia terus mengalami pemulihan dan pertumbuhan. Wisatawan asing mencapai lebih dari 11,43 juta orang dari Januari hingga September 2025, naik 10% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Selama periode yang sama, hampir 902 juta orang Indonesia melakukan perjalanan domestik ke destinasi wisata di seluruh negeri, menunjukkan kegairahan masyarakat dalam industri ini.

Angka-angka ini tampak menjanjikan. Statistik pertumbuhan dirayakan setiap akhir tahun. Namun, keadaan tidak mudah ketika dilihat dari sudut pandang lokal, terutama di luar Bali. Sejak lama, Bali telah menjadi pusat wisata Indonesia. Bali menjadi unik dalam banyak hal karena infrastrukturnya yang matang, standar pelayanan yang lebih konsisten, dan jejaring industri yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Di balik angka dan penghargaan, bagaimanapun, ada pertanyaan yang tidak dapat dihindari: mengapa begitu banyak tempat lain di luar Bali yang memiliki fasilitas dasar yang kurang memuaskan?

Promosi sama sekali tidak salah, karena memang promosi dan citra destinasi sangat penting. Namun, pembangunan terhambat ketika promosi melebihi manfaatnya. Wisatawan tiba, tetapi penghasilan warga lokal masih tidak memuaskan. Masyarakat lokal tetap berada di pinggiran rantai nilai meskipun investor masuk.

Rasanya inilah yang biasa disebut dengan Boosterism, dimana terjadi kecenderungan pembangunan yang terlalu berfokus pada promosi dan optimisme, mengutamakan keberhasilan sambil mengabaikan masalah dasar. Dalam industri pariwisata, boosterism menghasilkan cerita besar tentang prestasi global, jumlah kunjungan yang fantastis, dan penghargaan. Namun, masalah seperti kualitas layanan, ketimpangan manfaat ekonomi, dan kekurangan infrastruktur dasar kurang diperhatikan.

Wisatawan, terutama warga kelas menengah yang semakin meningkat, sering mengalami kesulitan menemukan toilet umum yang bersih, tempat makan yang higienis, papan informasi yang jelas, dan sistem pengelolaan sampah yang belum tertata dengan baik. Ketidaksesuaian antara situasi nyata di lapangan dan promosi digital yang luar bbiasa indah dapat menyebabkan kekecewaan pada wisatawan. Dalam jangka panjang, hal ini berisiko mengurangi tingkat kepuasan wisatawan yang mempengaruhi tingkat kesetiaan (loyalitas) mereka.

Kesejahteraan masyarakat lokal adalah masalah yang lebih serius. Pariwisata seharusnya membantu pembangunan daerah dengan menciptakan lapangan kerja, mendorong UMKM, dan meningkatkan pendapatan warga. Manfaat ekonomi belum terdistribusi secara merata di banyak tempat. Banyak pekerja lokal masih bekerja di sektor informal, yang menghasilkan gaji yang tidak stabil dan tidak memiliki perlindungan sosial yang memadai. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menekankan betapa pentingnya meningkatkan kapasitas SDM dan standar pelayanan di desa wisata. Banyak UMKM pariwisata tidak memiliki pelatihan pelayanan atau sertifikasi kebersihan. Sulit untuk mengharapkan peningkatan kualitas layanan yang signifikan tanpa intervensi berkelanjutan.

Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa pariwisata kita masih terlalu berfokus pada jumlah kunjungan daripada kualitas pengalaman dan keseimbangan keuntungan. Seringkali, target jumlah wisatawan dianggap sebagai indikator utama keberhasilan. Di sisi lain, elemen seperti standar pelayanan, kebersihan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak mendapat perhatian yang sama. Namun, masalah higienitas, keamanan, keberlanjutan, dan kualitas pengalaman wisatawan telah menjadi perhatian di beberapa negara yang mengedepankan pembangunan pariwisata yg mengedepankan keberlanjutan.

Sebagai contoh, kita melihat ke beberapa negara ASEAN. Singapura, misalnya, telah menetapkan standar wisata bersih dan aman untuk meningkatkan kepercayaan turis setelah pandemi. Sebuah laporan Channel News Asia (2021) menyatakan bahwa sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memperbaiki sektor pariwisatanya, pemerintah Singapura memberlakukan standar kebersihan dan keamanan destinasi. Selain itu, "pengalaman perjalanan berkualitas tinggi" kini menjadi prioritas utama Dewan Pariwisata Singapura, menurut The Straits Times (2022) daripada meningkatkan jumlah kunjungan. Singapura menyadari kebutuhan wisatawan kontemporer untuk pengalaman yang aman, bersih, dan terstruktur.

Selanjutnya adalah negara tetangga yaitu Malaysia. Malaysia mengikuti prinsip keberlanjutan. Bernama (2023) mengatakan bahwa Malaysia menggunakan pariwisata hijau dan program keberlanjutan sebagai bagian dari rencana pemulihan setelah pandemi. Sabah, misalnya, mengutamakan ekowisata dan pemberdayaan masyarakat lokal (The Star, 2024). Berbeda dengan atraksi buatan, pengalaman wisata dibangun melalui interaksi langsung dengan alam dan masyarakat. Vietnam juga menunjukkan kemajuan. Sebuah laporan dari Vietnam News Agency (2024) menyatakan bahwa pemerintah negara itu sedang berusaha untuk meningkatkan pengalaman wisatawan internasional dengan membangun infrastruktur dan fasilitas publik yang lebih baik. Negara itu juga berinvestasi dalam pelayanan dasar seperti aksesibilitas, kebersihan, dan kebersihan, yang semua memengaruhi persepsi wisatawan.

Kembali ke Indonesia, tata kelola juga masih merupakan masalah. Pengelolaan pariwisata masih belum terorganisir di banyak tempat. Kebijakan kebersihan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi lokal tidak selalu terkait dengan kebijakan pariwisata. Akibatnya, pembangunan destinasi seringkali dilakukan secara tambal sulam dan tidak berkelanjutan.

Paradigma pembangunan pariwisata harus disesuaikan dengan visi pembangunan kepariwisataan dikemudian hari. Pertama, standar higienitas dan kebersihan harus menjadi dasar, bukan tambahan. Kebersihan toilet, pengelolaan sampah yang efektif, dan keamanan makanan adalah kebutuhan utama, bukan kemewahan. Kedua, prioritas utama harus diberikan kepada pelaku lokal untuk mendapatkan pelatihan berkelanjutan dalam bidang seperti manajemen layanan, sanitasi, dan pemasaran digital. Ketiga, skema pembagian manfaat ekonomi harus dibuat dengan cara yang melibatkan pemilik dan pengelola bisnis serta pekerja berupah rendah.

Melihat kondisi ini, maka solusi tidak bisa lagi bersifat kosmetik. Kita membutuhkan pergeseran paradigma yang mendasar: dari pariwisata berbasis jumlah menuju pariwisata berbasis pengalaman. Pariwisata berbasis pengalaman bukan sekadar gagasan akademis; itu memerlukan revolusi mental. Destinasi tidak lagi dianggap sebagai "objek kunjungan". Sebaliknya, destinasi sekarang dianggap sebagai ruang hidup yang harus memberikan pengalaman kepada wisatawan yang mencakup aspek indrawi, emosional, intelektual, sosial, dan partisipatif. Pariwisata berbasis pengalaman akan berhasil jika masyarakat menjadi bagian dari cerita, bukan hanya penonton investasi besar. Pelatihan pemandu berbasis cerita, penguatan UMKM lokal, dan rencana pembagian keuntungan yang adil harus menjadi agenda serius, bukan hanya program perayaan.

Indikator keberhasilan juga harus direformasi. Kita harus berani mengubah indikator keberhasilan. Sudah saatnya pariwisata diukur bukan hanya dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari peningkatan pendapatan masyarakat lokal, lama tinggal, kepuasan wisatawan, dan keinginan untuk kembali. Kesejahteraan warga jauh lebih penting daripada penghargaan internasional. Bukan hanya jumlah kunjungan yang meningkat, tetapi juga kualitas pengalaman, kepuasan pelanggan, lama tinggal, dan peningkatan pendapatan komunitas lokal. Meskipun penghargaan di tingkat internasional merupakan pencapaian yang luar biasa, keberhasilan sebenarnya terjadi ketika penduduk lokal dari lokasi tersebut benar-benar merasakan manfaatnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|