Obesitas Tak Semata Faktor Genetik, Gaya Hidup Jadi Penentu Utama

4 hours ago 4

Harianjogja.com, JAKARTA—Obesitas tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor keturunan. Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK, menegaskan bahwa pengaruh genetik terhadap obesitas diperkirakan kurang dari 20 persen, sementara faktor gaya hidup, pola makan, dan lingkungan memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menentukan berat badan seseorang.

Pernyataan tersebut disampaikan Maryam dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing yang digelar di Jakarta, Kamis (18/6/2026). Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap kondisi obesitas tidak dapat diubah karena berasal dari faktor keluarga, padahal sebagian besar faktor pemicunya masih bisa dikendalikan.

"Jangan sampai ada anggapan, 'Dok, aku dari keluarganya sudah gemuk semua, jadi kayaknya enggak mungkin kalau mau turun.' Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," kata Maryam.

Maryam menjelaskan bahwa obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. Selain genetik, kondisi tersebut juga berkaitan dengan aspek fisik, metabolisme, hormonal, psikologis, hingga faktor lingkungan yang memengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari.

Meski demikian, ia menekankan bahwa faktor-faktor yang masih dapat dimodifikasi, seperti pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, dan penerapan gaya hidup aktif, memiliki kontribusi besar dalam pengendalian berat badan.

"Banyak yang bisa kita ubah, salah satunya adalah faktor lingkungan atau gaya hidup," ujarnya.

Obesitas Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental

Lebih lanjut, Maryam mengingatkan bahwa dampak obesitas tidak hanya berkaitan dengan peningkatan berat badan semata. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik, seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kadar kolesterol.

Selain itu, obesitas juga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi serta tingkat kesuburan seseorang. Dampaknya bahkan dapat meluas hingga memengaruhi kondisi psikologis, termasuk memicu depresi, gangguan citra tubuh (body image), menurunkan rasa percaya diri, hingga menyebabkan gangguan pola makan.

Menurut Maryam, konsekuensi obesitas tidak berhenti pada aspek kesehatan. Kondisi ini juga dapat berdampak pada produktivitas kerja dan menimbulkan beban ekonomi yang akhirnya berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan.

Kelebihan Lemak Tubuh Jadi Indikator Utama Obesitas

Maryam menegaskan bahwa obesitas tidak bisa diukur hanya dari angka berat badan. Penilaian yang lebih penting adalah melihat komposisi tubuh, terutama jumlah lemak yang tersimpan di dalam tubuh seseorang.

"Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tapi kelebihan lemak tubuh," katanya.

Ia mencontohkan adanya kondisi yang dikenal sebagai skinny fat, yakni seseorang yang secara fisik terlihat kurus, tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi. Karena itu, evaluasi kondisi tubuh perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada angka timbangan.

Maryam menambahkan bahwa upaya mencapai berat badan ideal sebaiknya dilakukan secara personal berdasarkan hasil pengukuran yang objektif. Pendekatan tersebut penting agar proses penurunan berat badan tidak justru mengurangi massa otot secara berlebihan, melainkan benar-benar menurunkan kadar lemak tubuh sehingga manfaat kesehatan yang diperoleh dapat lebih optimal dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|