
Abdi dalem Kraton Jogja membacakan macapat di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Kraton Jogja mulai pukul 21.00 WIB/ Harian Jogja-Stefani Yulindriani
Harianjogja.com, JOGJA— Menjelang pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960, Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng kembali digelar pada Selasa (16/6/2026) malam. Tradisi tahunan yang telah melekat dalam kehidupan budaya masyarakat Yogyakarta ini menjadi sarana refleksi sekaligus bentuk dukungan masyarakat terhadap Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Kegiatan tersebut digagas oleh para abdi dalem dan masyarakat sebagai bentuk partisipasi kolektif dalam menjaga warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan serta menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan penuh kesadaran dan harapan.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng bukan merupakan agenda resmi Hajad Dalem Kraton, melainkan inisiatif dari para abdi dalem dan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud kebersamaan untuk mendukung keberadaan Kraton Jogja sebagai pusat pelestarian budaya.
“Agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Jogja, tetapi inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan. Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan Lampah Budaya Mubeng Beteng ini untuk menyatukan rasa dan melakukan refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik,” ujarnya.
Rangkaian acara dimulai pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti Kraton Jogja dengan pembacaan macapat. Melalui lantunan tembang tradisional tersebut, peserta diajak memanjatkan doa dan harapan agar kehidupan pada tahun yang baru dapat berjalan lebih baik.
Menjelang tengah malam, sekitar pukul 23.30 WIB hingga 23.50 WIB, digelar seremoni sekaligus persiapan pemberangkatan peserta. Setelah itu, peserta akan melakukan lampah atau berjalan mengelilingi benteng Kraton Jogja sebagai bagian dari tradisi menyambut malam 1 Sura.
KRT Kusumanegara juga mengajak seluruh peserta untuk menjaga suasana khidmat selama kegiatan berlangsung. Ia menekankan pentingnya menjaga ketertiban, kenyamanan, dan keheningan agar makna spiritual dari tradisi ini tetap terjaga.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Atlas Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan Lampah Budaya Mubeng Beteng merupakan warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan sejak 2015.
Status tersebut menegaskan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi yang menjadi identitas budaya Yogyakarta.
“Sehingga ini menjadi tugas kita bersama untuk ikut andil dalam proses pelestariannya,” katanya.
Tradisi Mubeng Beteng selama ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat filosofi kehidupan Jawa. Melalui kegiatan ini, nilai introspeksi, kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































