Mualaf atau Bukan

2 hours ago 4

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap penulis yang baik mesti bersedia memperbaiki tulisannya ketika fakta baru datang. Kemarin saya menulis obituari John L Esposito. Dalam tulisan itu saya menyebut dengan tegas bahwa "Esposito bukan Muslim." Tulisan itu sudah terbit dan dibaca banyak orang.

Ada fakta baru. Malam harinya, satu pesan WhatsApp masuk dari KH Mukhlisin Sa'ad. Bersama pesan itu terkirim sebuah tangkapan layar. Isinya mengejutkan. Beredar kabar, dari Maroko hingga Malaysia, bahwa John L Esposito telah mengucapkan syahadat sebelum wafatnya di hadapan Hamza Yusuf dan Jean, istri Esposito.

Di bawah tangkapan layar itu ditulis pesan singkat: "Mungkin antum bisa memberikan informasi ini kepada Ahmadie Thaha, syukran." Di bawahnya ada tambahan penjelasan sumber informasi. "Informasi ini saya dapat dari WA Prof Wan Daud dari group Naquib Al Attas, syukran."

Saya masih belum dapat memastikn apakah Hamza Yusuf sendiri atau istri Esposito pernah mengonfirmasi pernyataan tersebut. Juga belum menemukan informasi mengenai rincian prosesi penguburannya.

Saya pun membaca ulang tulisan saya. Maka, kalau kabar itu benar, saya berkewajiban memperbaiki tulisan saya dan meminta maaf kepada para pembaca. Tetapi kalau kabar itu belum dapat dipastikan, saya juga tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta.

Di sinilah seorang penulis diuji. Saya kemudian mencoba menelusuri kembali berbagai sumber yang tersedia. Di antaranya, saya menemukan laporan bahwa Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat dekat Esposito, mengumumkan kewafatannya setelah berbicara dengan istri Esposito, mengenai waktu dan sebab wafatnya.

Sampai tulisan ini selesai saya susun, saya belum menemukan pernyataan resmi dari Georgetown University, keluarga John Esposito, maupun kolega terdekatnya yang dapat memastikan bahwa beliau mengucapkan syahadat sebelum wafat.

Sebaliknya, saya juga belum menemukan bantahan resmi yang secara tegas menyatakan bahwa kabar itu pasti tidak benar.

Artinya, ada dua arus informasi yang berjalan bersamaan. Yang satu menyebarkan kabar keislaman Esposito melalui jejaring tokoh-tokoh Muslim. Yang lain hanya memberitakan wafatnya tanpa menyebut sedikit pun adanya perpindahan agama.

Karena itu saya memilih bersikap hati-hati. Saya tentu bergembira bila suatu hari nanti kabar itu terbukti benar. Tetapi kegembiraan tidak boleh menggantikan verifikasi.

Saya jadi bertanya, mengapa banyak kaum Muslim berharap Esposito wafat sebagai Muslim? Karena selama hidupnya ia telah memperlakukan Islam dengan keadilan yang jarang diberikan banyak sarjana Barat. Harapan itu adalah ungkapan cinta. Tetapi cinta tidak boleh menggantikan fakta.

Menariknya lagi, ketika saya membaca ulang berbagai obituari tentang John Esposito, perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai status agamanya.

Muslim Network TV memberi judul obituarinya: "John Esposito, who let a billion Muslims speak for themselves." John Esposito adalah orang yang membiarkan satu miliar Muslim berbicara dengan suara mereka sendiri.

Kalimat itu menurut saya merangkum seluruh perjalanan intelektualnya. Selama lebih dari lima puluh tahun Esposito berusaha mengubah cara Barat memandang Islam.

Ketika banyak orang menjelaskan Islam melalui lensa konflik, ancaman keamanan, atau benturan peradaban, Esposito memilih mendengar umat Islam menjelaskan dirinya sendiri.

Ia menolak menjadikan hampir dua miliar Muslim sebagai satu kategori yang seragam. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Muslim hanya dapat dipahami melalui sejarah, budaya, pengalaman sosial, dan aspirasi mereka sendiri, bukan melalui prasangka yang dibangun dari luar.

Karena itu ia tidak hanya menulis buku. Ia mendirikan Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Inilah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kajian Islam dan dialog lintas agama paling berpengaruh di dunia.

Ia juga mendirikan Bridge Initiative (Prakarsa Jembatan), sebuah proyek penelitian yang hingga kini menjadi salah satu rujukan utama dalam mendokumentasikan Islamofobia di Amerika Utara dan Eropa.

Ia memimpin penyusunan sejumlah karya referensi yang menjadi fondasi studi Islam modern, antara lain The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, The Oxford Dictionary of Islam, The Oxford History of Islam, dan The Oxford Encyclopedia of the Islamic World.

Bersama Dalia Mogahed, Esposito menulis Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think. Buku itu lahir dari survei Gallup terhadap puluhan ribu responden Muslim di berbagai negara.

Pesannya sederhana tetapi revolusioner: kalau ingin mengetahui apa yang dipikirkan umat Islam, tanyakan kepada mereka, bukan kepada stereotip yang berkembang di media.

Karena sikap akademiknya itulah Esposito dihormati di dunia Islam. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengenangnya bukan sekadar sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai sahabat yang telah dikenalnya lebih dari lima puluh tahun.

Anwar menyebut Esposito sebagai orang yang membangun jembatan ketika banyak orang memilih membangun tembok.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|