REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Dua anggota grup musik trip-hop asal Inggris, Massive Attack, telah menerima peringatan dari kepolisian dan dilarang masuk kembali ke Singapura setelah mereka mengibarkan bendera Palestina dalam konser mereka pada 29 Juli lalu. Meski dalihnya untuk “keharmonisan rasial dan agama”, Singapura memang memiliki sejarah panjang dengan Israel.
Otoritas Pengembangan Media Infokom (IMDA) mengumumkan larangan masuk tanpa batas waktu untuk grup musik tersebut dalam pernyataan bersama oleh kepolisian dan IMDA pada larut malam, Jumat (31/7/2026).
Polemik ini bermula dari sebuah video dari konser pada 29 Juli di The Star Theatre, yang diunggah di platform media sosial, memperlihatkan dua anggota grup sedang memegang bendera Palestina di atas panggung di tengah sorak-sorai penonton. Konser tersebut merupakan satu-satunya pertunjukan yang dijadwalkan di Singapura dalam rangkaian tur internasional grup musik itu saat ini.
Massive Attack dibentuk pada tahun 1988 di Bristol, Inggris, oleh Robert “3D” Del Naja, Grant “Daddy G” Marshall, Adrian “Tricky” Thaws, dan Andrew “Mushroom” Vowles. Per tahun 2025, grup ini beranggotakan penyanyi sekaligus penulis lagu Del Naja (61 tahun) dan DJ Marshall (66 tahun).
Singapura melarang pemajangan lambang negara asing di tempat umum tanpa izin atau pengecualian. Pelanggar dapat dikenai denda hingga 500 dolar Singapura, hukuman penjara hingga enam bulan, atau keduanya. Menyusul aksi pemajangan tersebut, kedua anggota band diperiksa oleh polisi “atas tindakan mereka yang menunjukkan dukungan terhadap gerakan politik dan membentangkan bendera asing” dalam konser itu.
“Kepolisian memandang serius tindakan yang berpotensi merusak kerukunan ras dan agama di Singapura, serta mengimbau masyarakat—termasuk warga negara asing—untuk tidak membawa masuk politik luar negeri, karena hal ini dapat melemahkan kohesi sosial dan supremasi hukum kita,” begitu pernyataan bersama otoritas Singapura.
Anggota grup musik Inggris, Massive Attack, membentangkan bendera Palestina dalam konser di The Star Teather, Singapura, 29 Juli 2026.
Terlepas dari alasan itu, pelarangan terhadap Massive Attack menyoroti kembali sejarah hubungan Singapura dan Israel. Shlomo Maital, lewat sebuah artikel berjudul “Israel-Singapore, A Deep Dark Secret Love Affair” yang diterbitkan The Jerusalem Post pada 2023 lalu menulis, hubungan antara Israel dan Singapura dimulai pada 1965. Saat itu, Israel masih merupakan sebuah negara yang masih dalam masa pertumbuhan, baru berusia 17 tahun.
Tingkat ekonominya pun masih miskin dengan Product Domestik Bruto per kapita hanya 1.429 dolar AS atau seperempat PDB saat ini. Saat itu, Israel hanya memiliki penduduk sebanyak 600 ribu orang Yahudi yang selamat pada tahun 1948 dari serangan tentara Arab. Mereka baru kehilangan 6.000 orang di medan perang. Dalam tiga setengah tahun pertama, Israel menyerap lebih banyak imigran daripada populasi pada tahun 1948.
Meski demikian, Israel bersedia membantu negara muda lain yang sedang berjuang, Singapura, yang lahir pada 9 Agustus 1965. Negara kota kecil dengan luas hanya 670 km persegi ini dulunya merupakan bagian dari Malaysia. Singapura diduduki oleh Jepang (1942-45), kemudian oleh Inggris. Negara tersebut lantas digabungkan dengan Federasi Malaysia pada tahun 1963. Hanya saja, penggabungan ini tidak berjalan mulus.

2 hours ago
2
















































