Mengapa Muharram Disebut Bulan Anak Yatim? Ini Penjelasan Kemenag  

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Muharram selama ini dikenal sebagian masyarakat Muslim Indonesia sebagai "bulan anak yatim". Pada bulan pertama dalam kalender Hijriyah tersebut, banyak masjid, majelis taklim, hingga lembaga sosial menggelar santunan dan memberi makan anak yatim, terutama menjelang 10 Muharram atau Hari Asyura.

Lantas, benarkah Muharram memang disebut sebagai bulan anak yatim dalam ajaran Islam?

Direktur Jenderal Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) RI, Prof Waryono Abdul Ghofur, mengatakan, penyebutan Muharram sebagai bulan anak yatim lebih merupakan bagian dari tradisi dan pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat. Menurut dia, tidak ada dalil khusus yang secara tegas menyebut Muharram sebagai bulan anak yatim.

"Kalau dicari dalilnya, sepengetahuan saya tidak ada," ujar Prof Waryono saat ditemui Republika.co.id dalam acara "Public Expose: Aksi Zakat dan Wakaf" di Kantor Kemenag, Thamrin, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, ada pula pendapat yang mengaitkan tradisi tersebut dengan peristiwa Karbala yang sangat lekat dengan sejarah Syiah. Dalam tragedi itu, cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali meninggal dunia dan menjadi anak yatim.

"Tapi ada juga yang berpendapat, ini bagian dari apa yang pernah dilakukan orang Syiah. Karena bulan Muharram itu kan Karbala. Husein kan yatim. Menurut saya, ini sesuatu yang baik, jadi tidak salah juga kalau dipahami seperti itu," ucapnya.

Meski demikian, Waryono menilai penyebutan Muharram sebagai bulan anak yatim justru dapat menjadi momentum untuk memperbanyak amal dan kepedulian terhadap mereka.

"Betul. Di kampung-kampung itu banyak sekali tradisi memberi makan anak yatim pada bulan Muharram," ucap dia.

Menurut Waryono, tradisi tersebut masih hidup di berbagai daerah. Bahkan, saat melakukan pertemuan secara daring dengan kantor wilayah Kementerian Agama, ia mendapati masyarakat di Sulawesi Barat juga memiliki kebiasaan menggelar kegiatan untuk anak-anak yatim selama Muharram.

"Bahkan kami kemarin baru zoom dengan Kanwil ya, itu di Sulawesi Barat, itu sudah, iya memang Muharram itu mengadakan pesta untuk anak yatim," kata dia.

Waryono menambahkan, Muharram memang menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial karena termasuk salah satu dari empat bulan mulia atau Asyhurul Hurum dalam Islam.

"Iya, karena Muharram termasuk bulan yang mulia," jelas dia.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, 10 Muharram bahkan kerap disebut sebagai "Lebaran Anak Yatim" atau Idul Yatama. Pada hari itu, banyak umat Islam memberikan santunan berupa makanan, pakaian, maupun bantuan lainnya kepada anak-anak yatim.

Meski tidak terdapat dalil shahih yang secara khusus menetapkan 10 Muharram sebagai hari raya bagi anak yatim, para ulama menilai tradisi menyantuni mereka merupakan perbuatan yang mulia dan sejalan dengan ajaran Islam tentang kasih sayang serta kepedulian sosial.

Rasulullah SAW sendiri sangat memuliakan anak yatim. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bersabda, "Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan seperti ini di surga," seraya merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Karena itu, tradisi berbagi kepada anak yatim pada bulan Muharram dipandang sebagai salah satu bentuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Selain menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim, tradisi tersebut juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan kepedulian di tengah masyarakat.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|