Libatkan 199 Kampus, Program Mahasiswa Berdampak 2025 Dievaluasi

4 hours ago 2

Libatkan 199 Kampus, Program Mahasiswa Berdampak 2025 Dievaluasi

Kemdiktisaintek mengevaluasi Program Mahasiswa Berdampak 2025 di UAD. Sebanyak 263 proposal lolos dengan total pendanaan Rp30,1 miliar. /Kemdiktisaintek.

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengevaluasi pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak 2025 yang telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp30 miliar untuk ratusan proyek pengabdian dan inovasi mahasiswa di berbagai daerah. Evaluasi nasional tersebut digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dengan menghadirkan puluhan tim terbaik dari seluruh Indonesia.

Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juni 2026, di Amphitarium Kampus 4 UAD. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diseminasi hasil program, tetapi juga ruang evaluasi untuk mengukur manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dari berbagai inovasi yang dijalankan mahasiswa bersama dosen pendamping.

Sebanyak 60 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi hadir untuk memaparkan hasil kegiatan sekaligus menjelaskan perubahan yang terjadi di masyarakat mitra setelah program dijalankan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan Program Mahasiswa Berdampak dirancang untuk mendorong mahasiswa menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, keberadaan jutaan mahasiswa di Indonesia merupakan potensi besar yang dapat menghubungkan hasil riset dan inovasi kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Kita memiliki sekitar sepuluh juta mahasiswa di perguruan tinggi. Mereka adalah ujung tombak bagaimana masyarakat dapat merasakan manfaat dari inovasi, hasil riset, dan pemikiran yang lahir dari kampus. Karena itu, sesuatu yang dibangun dari mahasiswa dan oleh mahasiswa merupakan motor penting dalam menghadirkan dampak nyata bagi negeri,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Kemdiktisaintek.

Fauzan menjelaskan salah satu kekuatan utama Program Mahasiswa Berdampak terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu atau collective intelligence.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan bekerja bersama untuk mengidentifikasi persoalan sosial berdasarkan data lapangan sekaligus membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Komitmen pemerintah terhadap Program Mahasiswa Berdampak terlihat dari besarnya dukungan pendanaan yang dikucurkan sepanjang 2025.

Tercatat sebanyak 957 proposal diajukan oleh perguruan tinggi dari seluruh Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan kurasi, sebanyak 263 proposal dinyatakan lolos dan memperoleh bantuan pendanaan dengan total nilai mencapai Rp30,1 miliar.

Program tersebut melibatkan 199 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. "Kami ingin mengukur bukan hanya aspek administratif dan teknis, tetapi sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan perubahan, kapasitas lokal tumbuh, dan ilmu pengetahuan maupun teknologi berkembang di komunitas,” tambah Fauzan.

Dorong Inovasi yang Menyentuh Masyarakat

Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Sunardi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Kemdiktisaintek kepada UAD sebagai tuan rumah kegiatan nasional tersebut.

Menurut dia, semangat Program Mahasiswa Berdampak sejalan dengan visi perguruan tinggi yang ingin memastikan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat tidak berhenti di lingkungan kampus.

“Harapannya, penelitian dan pengabdian yang dilakukan tidak hanya bermanfaat bagi kampus atau penelitinya saja, tetapi benar-benar memberikan maslahat dan dampak yang dirasakan masyarakat. Program seperti ini menunjukkan bagaimana inovasi dan pengabdian dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat,” papar Sunardi.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana.

Ia menjelaskan seminar tersebut menjadi bagian penting dari proses evaluasi karena Program Mahasiswa Berdampak baru pertama kali dilaksanakan pada 2025.

“Program Mahasiswa Berdampak lahir dari semangat untuk memberikan kepada mahasiswa agar dapat berkontribusi langsung menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Mahasiswa memiliki energi, idealisme, dan ide-ide brilian yang perlu difasilitasi agar menghasilkan perubahan yang konkret,” tegas Ketut.

Menurut Ketut, terdapat tiga indikator utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program, yakni dampak akademik, dampak sosial, dan dampak ekonomi.

Ia menegaskan keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya bertujuan memberikan pengalaman belajar, tetapi juga harus mampu menghasilkan perubahan positif, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi warga setempat.

Program Mahasiswa Berdampak 2026 Segera Dibuka

Dalam kesempatan tersebut, Ketut juga mengungkapkan bahwa Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2026 akan segera dibuka dalam waktu dekat.

Ia mengajak mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi untuk mulai menyiapkan gagasan inovatif yang dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

Selain sesi presentasi hasil kegiatan, seminar nasional di UAD juga menghadirkan pameran produk atau gelar karya yang menampilkan berbagai inovasi hasil kolaborasi mahasiswa dan masyarakat mitra.

Melalui evaluasi dan diseminasi hasil program ini, Kemdiktisaintek berharap Program Mahasiswa Berdampak dapat terus berkembang menjadi instrumen strategis yang memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus memperluas manfaat inovasi kampus hingga ke berbagai daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|