
Kolektor Seni Lukis Indonesia, Oei Hong Djien melepas kepergian Nasirun di rumah duka di Perum Bayeman Permai, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Sabtu (1/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Kabar duka datang dari dunia seni rupa Indonesia. Maestro seni lukis kontemporer, Nasirun, meninggal dunia di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.58 WIB.
Kepergian seniman yang telah memberi warna penting bagi perkembangan seni rupa Indonesia itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, kolektor, hingga komunitas seni yang selama ini mengenalnya. Salah satu yang tampak sangat terpukul adalah kolektor seni ternama Indonesia, Oei Hong Djien.
Dalam prosesi pelepasan jenazah di rumah duka Perum Bayeman Permai, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Oei Hong Djien mengenang hubungan dekat yang telah lama terjalin dengan almarhum. Baginya, Nasirun bukan sekadar seniman besar yang karyanya dikagumi, melainkan sosok yang telah dianggap seperti anak sendiri.
"Karena memang Nasirun tuh bagi saya tuh istimewa. Saya anggap Nasirun sebagai sudah anaknya sendiri, ya. Karena Nasirun ya kebetulan tidak pernah mengenal bapaknya," ujar Oei Hong Djien dalam sambutannya, Sabtu.
Oei mengaku rasa kehilangan yang dirasakannya tidak hanya muncul karena dunia seni kehilangan seorang perupa besar. Lebih dari itu, ia merasa kehilangan pribadi yang memiliki karakter kuat dan hati yang tulus terhadap sesama.
Menurutnya, Nasirun merupakan sosok yang tidak pernah tega melihat kesulitan orang lain. Kesuksesan yang diraih sepanjang kariernya sebagai seniman tidak pernah dinikmati seorang diri, melainkan selalu dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya.
"Sukses ini dia share, dibagikan sama teman-teman, saudara-saudara semuanya. Dia selalu orang bilang sharing," katanya.
Selain dikenal sebagai seniman dengan karya-karya yang memiliki identitas kuat, Nasirun juga dikenang sebagai pribadi yang penuh semangat hidup. Oei menggambarkan almarhum sebagai sosok yang ceria, optimistis, dan humoris.
Di mana pun berada, Nasirun disebut mampu menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Kehadirannya sering menghadirkan gelak tawa serta energi positif bagi lingkungan sekitarnya.
"Dan hebatnya, dia bisa menularkan ini pada sekitarnya, tidak dimiliki sendiri," lanjut Oei.
Dalam kesempatan tersebut, Oei juga menyoroti pentingnya seni dalam kehidupan manusia. Menurutnya, seni memiliki peran besar dalam membantu seseorang menemukan kebahagiaan dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.
Ia menilai sosok Nasirun menjadi contoh nyata bagaimana seni tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga membentuk karakter dan cara pandang hidup yang positif.
"Saya selalu bilang, semua orang yang berhubungan dengan seni akan sangat membantu untuk bisa mendapatkan hidup yang menyenangkan dan bahagia," ujarnya.
Setelah prosesi penghormatan terakhir, jenazah Nasirun dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Tilamat, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul. Kompleks pemakaman tersebut dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir sejumlah tokoh seni dan budayawan yang memiliki kontribusi penting bagi perkembangan kebudayaan Indonesia.
Nasirun lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965. Sejak muda, ia menempuh pendidikan seni di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) sebelum melanjutkan studi di Jurusan Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Nama Nasirun kemudian berkembang menjadi salah satu perupa paling berpengaruh di Indonesia. Karya-karyanya dikenal memiliki karakter kuat yang memadukan unsur budaya lokal, spiritualitas, simbol-simbol tradisi Jawa, serta pendekatan seni kontemporer yang khas.
Selama perjalanan kariernya, Nasirun menghasilkan berbagai karya monumental yang dipamerkan di dalam maupun luar negeri. Kontribusinya menjadikan dirinya sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia.
Kepergian Nasirun tidak hanya meninggalkan warisan berupa karya seni, tetapi juga teladan tentang kepedulian, semangat berbagi, dan kecintaan terhadap dunia seni. Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya, namun jejak pemikiran dan karya-karyanya akan terus hidup dan dikenang lintas generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































