Viral di China, Anak Muda Berbagi Kasur Demi Hemat Biaya Hidup

3 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Tuntutan ekonomi yang kian mencekik kini mendorong generasi muda China mengambil langkah-langkah yang dinilai ekstrem. Di tengah stagnasi upah dan gelombang pemutusan hubungan kerja yang terus melanda, tekanan finansial memaksa mereka berkreasi mencari cara bertahan.

Salah satu yang menyita perhatian publik adalah praktik berbagi tempat tidur dengan orang asing. Fenomena ini perlahan menjelma menjadi cermin getir sulitnya kehidupan perkotaan di bawah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi.

Di Kota Wuhan, China tengah, seorang perempuan berusia 25 tahun bernama Winnie Zeng terpaksa menjalani praktik tersebut. Penghasilannya sekitar 4.000 yuan atau setara Rp9,4 juta per bulan. Angka ini terbilang pas-pasan untuk menutupi biaya hidup yang tak henti melonjak.

Demi menekan pengeluaran, ia pun nekat berbagi kamar sekaligus satu ranjang dengan orang asing yang sama sekali tak dikenalnya. Keputusan itu berhasil memangkas biaya sewa hingga 450 yuan atau sekitar Rp1 juta per bulan. Dengan demikian, ia mampu mengamankan hampir tiga perempat dari total pendapatan bulanannya.

Kepada Reuters pada Kamis (29/7/2026), Zeng mengungkapkan bahwa langkah ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan. "Ini murni soal bertahan hidup," ujarnya tegas. Kesehariannya dihabiskan berjam-jam sebagai pembawa acara live streaming untuk mempromosikan produk perusahaannya.

"Kalau tak punya tabungan, begitu berhenti kerja, kita bakal sangat rentan," keluhnya dengan nada prihatin. Baginya, memiliki dana darurat adalah harga mati di tengah situasi ekonomi yang serba tidak pasti.

Untuk menguji kecocokan sebelum memutuskan tinggal bersama, Zeng dan teman sekamarnya melakukan uji coba selama delapan hari. Hasilnya cukup memuaskan. Ia justru merasa nyaman karena kini ada orang yang menyambut ketika pulang ke rumah. Mereka menempati satu dari lima kamar di sebuah apartemen. Setiap kamar disewakan secara terpisah. Ruangan mungil itu hanya diisi lemari pakaian, tempat tidur berukuran besar, meja nakas, dan meja kerja mini.

Bahkan, rak jemuran pakaian sampai menutupi sebagian jendela kecil berkasa besi. Meski sempit, Zeng mengaku tak masalah. Ia memasak sendiri dan berpuasa membeli baju mahal demi menumpuk dana darurat.

Menariknya, Zeng tak ambil pusing dengan beragam komentar netizen tentang pilihan hidupnya. Bahkan jika kelak gajinya naik, ia mungkin tetap akan melakoni gaya hidup hemat ini. "Gaji di awal karier memang kecil, sementara biaya hidup melambung. Mau tidak mau kita harus berkompromi," tambahnya menegaskan.

"Kalau orang bilang keadaan masyarakat memang sedang seberat itu sekarang ... menurut saya itu ada benarnya," pungkasnya menyiratkan keprihatinan mendalam atas situasi yang dihadapi generasi mudanya.

Fenomena ini bukan sekadar kisah individu. Ia telah menjadi bahan perbincangan hangat di jagat maya. Akhir Juni lalu, tagar "berbagi tempat tidur adalah kesulitan yang di luar pemahaman saya" mendadak viral di Weibo dan disaksikan lebih dari 14 juta kali. Di platform Douyin—versi Tiongkok dari TikTok—konten serupa bahkan menembus hampir 40 juta tayangan. Sementara itu, pencarian kata kunci "berbagi tempat tidur" di Xiaohongshu memunculkan lebih dari 37.000 unggahan, termasuk iklan kamar yang dipasang oleh Zeng sendiri.

Meski praktik ini masih tergolong langka di antara 260 juta penyewa rumah di China, lonjakan perhatian publik menunjukkan bahwa keresahan ekonomi kian meluas. Para pekerja muda kini diliputi kecemasan akan masa depan karier mereka.

Direktur Center for Global Work and Employment di Rutgers University, Mingwei Liu, menilai fenomena ini sebagai potret pahit yang tak bisa diabaikan. "Sebagian anak muda mulai kehilangan rasa memiliki terhadap kota yang mereka tinggali," jelas Liu. Mereka tidak memiliki pekerjaan stabil jangka panjang, apalagi kepastian penghasilan di masa depan.

Liu juga mengingatkan bahwa pola pikir serba hemat ini dapat memicu efek domino. Jika terus meluas, dampaknya bisa merembet ke mana-mana: menekan konsumsi rumah tangga, merontokkan pasar properti, hingga menurunkan angka pernikahan. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sinyal peringatan bagi perekonomian China ke depan.

Selain Zeng, kisah serupa juga dialami oleh warga Beijing lainnya. Morgan Pan (39) kini harus gigit jari. Penghasilannya anjlok drastis. Ia dulu mengantongi 30.000 hingga 40.000 yuan per bulan saat bekerja di perusahaan rintisan AI yang kini bangkrut. Kini pendapatannya tak sampai separuh dari angka tersebut.

Untuk memangkas uang sewa dan tagihan bulanan menjadi 1.200 yuan, Pan pun memilih berbagi kamar. "Sama sekali tak ada yang romantis dari situasi ini, yang ada cuma tekanan hidup," ujarnya dengan nada pahit. Baginya, ini adalah bentuk kepasrahan di tengah keterpurukan ekonomi.

Situasi serupa menimpa Wang, warga Beijing lainnya. Ia terkena pemutusan hubungan kerja setelah perusahaan teknik sipil tempatnya bekerja bangkrut pada Desember lalu. Hingga kini, ia belum juga menemukan pekerjaan yang cocok. Satu-satunya langkah yang bisa dilakukan adalah menekan pengeluaran serendah mungkin.

Kisah Wang menambah deretan bukti bahwa fenomena berbagi tempat tidur bukanlah sekadar gaya hidup alternatif. Ini adalah cermin nyata dari krisis eksistensial yang dihadapi generasi muda China. Mereka berjuang mati-matian untuk bertahan, meski harus mengorbankan privasi dan kenyamanan.

Bagi kebanyakan pelaku, praktik berbagi ranjang ini bukanlah ajang mencari teman atau pengalaman sosial. Ini murni paksaan keadaan. Dorongan untuk memiliki tabungan yang cukup dan rasa takut kehilangan pekerjaan menjadi penggerak utama. Di tengah gaji yang tak kunjung naik, biaya hidup yang meroket, dan ancaman PHK yang menghantui, generasi muda China terus beradaptasi.

Fenomena ini bukan sekadar viral, tetapi alarm yang menggetarkan tentang masa depan. Para pengamat menilai, jika tak ada perubahan kebijakan yang signifikan, praktik-praktik tidak lazim semacam ini akan semakin marak. Inilah realitas getir yang harus dihadapi oleh mereka yang ingin bertahan di negeri sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|