Wisata jeep di sekitar Gunung Merapi sudah mulai beroperasi, di Kali Kuning, Desa Umbulharjo, Cangkringan pada (12/5). - Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN — Perbedaan jumlah kunjungan wisatawan di kawasan lereng Gunung Merapi terlihat mencolok sepanjang awal 2026. Dua destinasi yang berada di wilayah pengelolaan Balai Taman Nasional Gunung Merapi menunjukkan tren yang timpang, dengan Objek Wisata Alam (OWA) Plunyon jauh lebih diminati dibanding Kalikuning.
Berdasarkan data dari Resort Pengelolaan Taman Nasional Cangkringan hingga 19 April 2026, jumlah kunjungan ke Plunyon mencapai 24.414 wisatawan. Sementara itu, Kalikuning hanya mencatat 704 pengunjung dalam periode yang sama.
Kepala RPTN Cangkringan, Prakasita Nastiti, menyebut tingginya minat wisatawan ke Plunyon tidak lepas dari daya tarik visual yang kuat, terutama keberadaan Jembatan Plunyon. Lokasi ini dikenal luas sebagai spot foto ikonik dengan latar lanskap alami khas lereng Merapi.
“Jembatan Plunyon menjadi salah satu magnet utama. Banyak pengunjung datang untuk berfoto dengan latar hutan dan suasana pegunungan,” ujarnya.
Daya tarik tersebut membuat Plunyon konsisten menjadi pilihan utama wisatawan, baik lokal maupun luar daerah. Selain panorama alam, akses yang relatif mudah dan fasilitas yang terus dibenahi turut mendukung tingginya angka kunjungan.
Sebaliknya, OWA Kalikuning masih menghadapi tantangan dalam menarik minat wisatawan. Rendahnya angka kunjungan menunjukkan perlunya strategi pengembangan yang lebih terarah, baik dari sisi promosi, penataan kawasan, hingga peningkatan fasilitas pendukung.
Pengelola kawasan sebenarnya telah melakukan sejumlah pembenahan menjelang libur Lebaran 2026. Di antaranya pemasangan papan imbauan untuk meningkatkan kesadaran wisatawan terhadap keselamatan, serta penataan jalur hiking di kedua lokasi. Upaya ini bertujuan menciptakan pengalaman wisata yang lebih aman dan nyaman.
Selain itu, pembersihan area Jembatan Plunyon juga rutin dilakukan guna menjaga estetika kawasan. Langkah ini dinilai penting untuk mempertahankan citra destinasi yang selama ini menjadi andalan wisata lereng Merapi.
Di sisi lain, faktor keselamatan juga menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan wisata alam di kawasan ini. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, T. Heri Wibowo, menjelaskan bahwa beberapa jalur pendakian masih ditutup karena berada di kawasan rawan bencana.
Salah satunya jalur menuju Watu Gebyok yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, yakni zona paling berisiko dengan radius sekitar 3 hingga 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Kawasan ini berpotensi terdampak awan panas, aliran lava, hingga lontaran material pijar.
“Pembukaan dan penutupan jalur sangat bergantung pada status aktivitas Gunung Merapi,” jelasnya.
Ke depan, pengelola berharap disparitas kunjungan ini dapat ditekan melalui pengembangan destinasi secara merata. Plunyon diharapkan tetap menjadi magnet wisata, sementara Kalikuning didorong untuk lebih dikenal melalui inovasi atraksi dan promosi yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
















































