Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis biaya hidup yang parah tengah melanda Nigeria, hingga mengubah total persiapan warga Muslim di negara tersebut dalam menyambut perayaan Iduladha. Lonjakan harga barang pokok dan transportasi memaksa banyak keluarga memangkas pengeluaran, membatalkan mudik, hingga menghapus tradisi menyembelih hewan kurban akibat tekanan ekonomi yang kian mencekik.
Kondisi pilu ini salah satunya dirasakan oleh Yunus Akanji, seorang guru mengaji di sekolah Islam Nurul Bayan yang berlokasi di Abuja. Mengutip Al Jazeera pada Selasa, (26/05/2026), pria tersebut kini hanya bisa pasrah melihat situasi finansial yang membuat perayaan tahun ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Akanji mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak memiliki pilihan lain selain merayakan hari raya dengan kondisi seadanya tanpa persiapan khusus.
"Saya telah menyimpulkan bahwa kami hanya akan merayakan dengan apa pun yang kami miliki," kata Akanji.
Selama bertahun-tahun, Akanji biasanya membawa istri dan anak-anaknya melakukan perjalanan mudik ke Saki di Negara Bagian Oyo untuk berkumpul bersama keluarga besarnya. Jika tidak mudik pada Selasa, dia akan membeli seekor domba untuk dikurbankan serta menggelar perayaan sederhana bersama keluarga dan para muridnya, namun tahun ini kedua hal tersebut dipastikan batal.
Akanji menjelaskan bahwa himpitan ekonomi ini juga sangat memukul para orang tua murid serta masyarakat sekitar yang biasanya rutin memberikan donasi atau bantuan dana untuk madrasah yang dikelolanya.
"Sebagian besar dari mereka bahkan belum membayar," ujar Akanji merujuk pada uang sekolah yang biasanya menopang operasional madrasah sekaligus kebutuhan rumah tangganya.
Tekanan ekonomi ini tidak hanya mandek di ruang kelas, melainkan merembet ke stasiun bus, pasar, hingga memicu dilema bagi warga dalam kalkulasi biaya perjalanan mudik. Warga asal Ogun yang sedang menjalani program sarjana wajib militer National Youth Service Corps di Abuja, Nafisa Ibrahim, menyatakan terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang ke kampung halaman akibat ongkos transportasi yang melonjak tidak masuk akal.
Ibrahim membeberkan bahwa tarif transportasi dari Abuja menuju kampung halamannya telah meroket lebih dari dua kali lipat dibandingkan beberapa bulan lalu.
"Transportasi sekarang sekitar 35.000 naira (sekitar Rp406.000), dibandingkan dengan 15.000 naira (sekitar Rp174.000) yang saya bayar saat datang ke Abuja pada bulan Februari," tutur Ibrahim.
Kelesuan ekonomi menjelang Iduladha juga dirasakan langsung oleh sektor usaha mikro, seperti yang dialami Opeyemi Ibrahim, seorang desainer pakaian yang membuka toko di distrik Byazhin. Menurut pengakuannya, jumlah pelanggan yang datang merosot tajam padahal hari raya sudah sangat dekat, ditambah beban operasional toko yang membengkak akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan pemadaman listrik massal.
Ibrahim mengeluhkan bahwa dirinya harus mengeluarkan modal ekstra yang cukup besar untuk membeli bahan bakar generator agar tokonya tetap bisa beroperasi saat listrik padam.
"Ketika tidak ada listrik, kami harus menyalakan generator. Mengisinya membutuhkan biaya sekitar 10.000 naira (sekitar Rp116.000)," jelas Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, jika tidak menyalakan generator pada hari biasa maupun menjelang Iduladha, suasana di dalam tokonya akan menjadi sangat panas dan dia tetap membutuhkan daya listrik yang stabil untuk menyetrika pakaian para pelanggan.
Pemandangan memprihatinkan juga terlihat di pasar hewan kurban Kubwa di Abuja, di mana para pedagang hanya bisa berdiri lesu di samping domba kurban yang diikat di tiang kayu tanpa ada pembeli. Seorang pedagang hewan ternak kawakan, Malam Ibrahim, hanya bisa terduduk lemas menyaksikan para calon pembeli datang silih berganti namun pergi dengan tangan hampa setelah mendengar harga yang ditawarkan.
Malam mengatakan bahwa daya beli masyarakat benar-benar ambruk karena para pengunjung hanya sekadar bertanya tanpa melakukan transaksi.
"Orang-orang datang, menanyakan harga, lalu berjalan pergi," ungkap Malam.
Sembari menunjuk seekor domba bercorak hitam-putih di dekatnya, Malam memaparkan betapa gilanya kenaikan harga hewan kurban pada tahun ini jika dibandingkan dengan perayaan tahun lalu.
"Domba ini dijual seharga 600.000 naira (sekitar Rp6,9 juta). Tahun lalu, ukuran yang sama berada di bawah 350.000 naira (sekitar Rp4,06 juta)," sebut Malam.
Melambungnya harga hewan ternak ini dipicu oleh mahalnya biaya logistik pengiriman hewan dari wilayah utara Nigeria, seperti Sokoto dan Kaduna, akibat kenaikan harga BBM dan tarif angkutan. Malam mengkhawatirkan nasib hewan-hewan dagangannya jika tetap tidak laku hingga hari raya usai, karena nilainya akan jatuh drastis dan merugikan peternak.
"Bahkan para penjual pun menderita. Kami tidak berdoa untuk membawa mereka pulang kembali, tetapi melihat situasi saat ini, saya khawatir hal itu akan terjadi," keluh Malam.
Dampak inflasi yang parah ini membuat seorang pembeli wanita yang awalnya berniat membeli dua ekor domba terpaksa pulang hanya dengan membawa satu ekor saja. Meskipun mata uang naira terlihat lebih stabil terhadap dolar AS dibandingkan tahun lalu, para pedagang menegaskan biaya distribusi barang di seluruh negeri terus merangkak naik setiap bulannya.
Kondisi sepi pembeli juga menjalar ke pasar desa Kubwa, di mana para pedagang komoditas pangan seperti tomat, bawang merah, beras, hingga minyak goreng mengeluhkan penurunan omzet penjualan yang drastis. Salah seorang pedagang di pasar tersebut mengungkapkan secara lirih bahwa saat ini masyarakat sudah tidak lagi memikirkan kemeriahan hari raya, melainkan fokus pada bertahan hidup.
"Kami biasanya merayakan Iduladha dengan penuh kegembiraan. Sekarang kami hanya menghitung apa yang mampu kami beli," ucap pedagang tersebut.
(tps/luc)
Addsource on Google


















































