Jamu RI Diakui UNESCO, Pengusaha Bidik Peluang Pasar Wellness Global

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengakuan UNESCO terhadap budaya jamu Indonesia mulai membuka peluang baru bagi industri herbal nasional. Pelaku usaha menilai pengakuan tersebut meningkatkan perhatian masyarakat global terhadap jamu di tengah tren gaya hidup sehat atau wellness yang terus berkembang di berbagai negara.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), Jony Yuwono bilang, pengakuan UNESCO pada 2023 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan jamu kepada pasar internasional, sebab banyak masyarakat luar negeri mulai mengenal jamu setelah UNESCO menetapkan budaya sehat jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Kesadaran tersebut bahkan mulai mendorong munculnya usaha-usaha jamu yang dijalankan diaspora Indonesia di sejumlah negara.

"Sudah terlihat, dari pengalaman yang ada mulailah ada beberapa diaspora Indonesia yang membuka usaha jamu di luar negeri. Seperti di Amsterdam ada, di Amerika Selatan juga ada, dan responsnya cukup baik," ujar Jony dalam Health Forum bertajuk "Dari Wariasan Budaya Menjadi Indsutri Jamu Berkelanjutan" pada Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, pengakuan UNESCO bukan ditujukan kepada produk minuman jamu semata, melainkan pengetahuan dan tradisi masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan hayati untuk menjaga kesehatan secara turun-temurun.

Di saat yang sama, menurutnya dunia saat ini dinilai sedang bergerak menuju tren wellness, di mana masyarakat semakin memperhatikan kesehatan preventif, pola hidup sehat, serta penggunaan bahan-bahan alami.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati dan tradisi pengobatan herbal yang telah berkembang selama ratusan tahun. Jony pun bilang, sejumlah bahan herbal khas Indonesia seperti kunyit, jahe, dan temulawak sebenarnya sudah mulai dikenal di pasar internasional. Bahkan di beberapa negara, produk berbahan dasar rempah tersebut telah dijual dalam bentuk minuman kesehatan siap konsumsi.

"Kalau kita lihat mungkin beberapa dari mereka pun tidak menyebut produknya sebagai jamu, karena kalau misalnya kita lihat di Jepang, di Tiongkok, di Australia, bahkan di beberapa negara, bahkan di Barat Amerika pun, sudah ada produk shot kunyit, jahe, bahkan temulawak. Artinya permintaan terhadap alternatif gaya hidup sehat itu sudah mulai ada," katanya.

Meski peluang pasar terbuka lebar, industri jamu nasional masih menghadapi tantangan untuk menembus pasar global. Salah satunya adalah pemenuhan standar mutu dan regulasi yang berlaku di masing-masing negara tujuan ekspor.

Sehingga, pelaku usaha mendorong peningkatan kualitas, riset, serta standarisasi produk agar jamu Indonesia tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu bersaing di pasar kesehatan global yang nilainya terus bertumbuh.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|