Koperasi Merah Putih di DIY Tumbuh Sesuai Kebutuhan Warga

6 hours ago 6

Harianjogja.com, JOGJA—Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkembang dengan model usaha yang berbeda sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. Di Kalurahan Tamanmartani, Kabupaten Sleman, koperasi mempermudah akses pupuk bagi petani, sedangkan di Kelurahan Demangan, Kota Jogja, koperasi memperkuat distribusi kebutuhan pokok hingga layanan internet bagi warga.

Perbedaan karakter wilayah tersebut mendorong KDMP tumbuh dengan pendekatan berbasis potensi lokal. Meski memiliki lini usaha yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memberdayakan masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal melalui koperasi yang dikelola sesuai kebutuhan anggotanya.

Ketua KDMP Tamanmartani, Mawardi, mengatakan koperasi di wilayahnya didukung potensi pertanian yang kuat. Saat ini, sedikitnya terdapat 19 kelompok tani yang bermitra dengan koperasi untuk mempermudah distribusi pupuk.

"Yang paling langsung merasakan manfaat itu petani. Sekarang akses pupuk menjadi lebih mudah karena distribusinya melalui koperasi," ujarnya, Jumat (24/7/2026).

Menurut Mawardi, harga pupuk tetap mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, keberadaan koperasi membuat petani tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh pupuk ketika musim tanam tiba.

Selain sektor pertanian, KDMP Tamanmartani juga memberdayakan pelaku usaha kecil melalui kemitraan dengan 109 pedagang kelontong sebagai jalur distribusi sembako. Dalam skema tersebut, koperasi berperan sebagai pemasok bagi warung dan usaha kecil di lingkungan sekitar.

"Kami menjadi supplier untuk teman-teman pedagang kelontong," kata Mawardi.

Lini usaha KDMP Tamanmartani terus berkembang. Koperasi kini mengelola gerai sembako, klinik pratama yang dilengkapi layanan farmasi, mengembangkan budi daya ikan bioflok melalui hibah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta membuka usaha penyedia tenaga kerja SPG.

Mawardi menjelaskan, unit usaha bioflok juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat karena pengelolaannya masih melibatkan tenaga kerja lokal. Hingga saat ini, KDMP Tamanmartani telah memiliki 1.118 anggota dan menjadi salah satu koperasi dengan jumlah anggota terbesar di Kabupaten Sleman.

Meski demikian, seluruh unit usaha tersebut masih berada dalam tahap pengembangan.

"Sementara aman berproses, walaupun memang belum maksimal," katanya.

Sementara itu, Koperasi Merah Putih Demangan di Kota Jogja memilih fokus pada distribusi kebutuhan pokok masyarakat karena minimnya lahan pertanian di wilayah tersebut.

Ketua Koperasi Merah Putih Demangan, Antonius Fokki Ardiyanto, mengatakan koperasi saat ini menjalankan usaha sembako, oleh-oleh, Wi-Fi Merah Putih, air minum dalam kemasan, dan tengah mempersiapkan penyaluran LPG 3 kilogram.

"Yang menjadi prioritas adalah kebutuhan anggota," ujarnya.

Sebagian besar dari 105 anggota koperasi merupakan rumah tangga. Mereka memperoleh harga produk yang lebih murah dibandingkan nonanggota. Selain itu, transaksi yang dilakukan anggota menjadi dasar pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) pada akhir tahun.

"Kalau nonanggota kan tidak menerima SHU," katanya.

Menurut Fokki, koperasi tidak dibangun untuk mematikan usaha kecil yang sudah ada. Sebaliknya, koperasi ingin menjadi mitra bagi warung-warung rakyat di lingkungan sekitar.

Strategi yang diterapkan adalah menjadikan koperasi sebagai pemasok kebutuhan pokok sehingga pemilik warung dapat memperoleh harga yang lebih kompetitif. Apabila bergabung sebagai anggota, mereka juga berhak menerima SHU.

"Daripada warung membeli dari distributor luar, lebih baik membeli dari koperasi. Harapannya mereka juga menjadi anggota sehingga selain mendapat harga lebih murah, mereka juga memperoleh SHU," ujarnya.

Saat ini, baru dua warung yang menjadi mitra koperasi. Komoditas yang paling banyak dicari adalah minyak goreng dan beras. Menurut Fokki, sejumlah produk dijual lebih murah dibandingkan distributor lain dengan selisih harga minyak goreng sekitar Rp700 hingga Rp1.000 per liter.

Bagi Fokki, koperasi bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi menjadi instrumen untuk mengembalikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

"Tujuan koperasi itu mensejahterakan anggotanya. Itu yang terus kami bangun," katanya.

Di tengah pengembangan berbagai unit usaha koperasi, pendampingan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pengurus. Banyak KDMP di DIY yang masih berada pada tahap awal pengembangan, mulai dari penyusunan administrasi, pengelolaan keuangan, pengembangan model bisnis, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu perguruan tinggi yang terlibat dalam pendampingan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di DIY melalui Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP).

Kepala Subdirektorat Pengabdian Dosen UMY, Laelia Dwi Anggraini, mengatakan pendampingan dilakukan untuk memastikan koperasi mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi masyarakat yang memberikan manfaat nyata.

"Kami ingin turut memastikan koperasi mampu berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Laelia, setiap koperasi memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pendampingan yang berbeda pula. Koperasi di wilayah pertanian membutuhkan penguatan rantai pasok hasil tani, sedangkan koperasi di kawasan perkotaan lebih fokus pada distribusi kebutuhan pokok dan layanan jasa.

Karena itu, UMY menerapkan pendekatan learning by doing dalam proses pendampingan. Pengurus koperasi dibantu memahami regulasi baru, menyusun tata kelola organisasi, serta menerapkannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing koperasi.

"Pemerintah DIY mengharapkan adanya pendampingan dari perguruan tinggi. UMY menyambutnya sebagai kesempatan untuk belajar bersama atau learning by doing, membantu masyarakat memahami berbagai ketentuan baru, kemudian menerapkannya sesuai kebutuhan masing-masing koperasi," katanya.

Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sendiri diarahkan untuk memperkuat koperasi sebagai lembaga ekonomi lokal melalui pembentukan koperasi baru, revitalisasi koperasi yang tidak aktif, serta pengembangan koperasi yang telah berjalan agar memiliki tata kelola yang lebih modern dan memanfaatkan teknologi digital.

Program tersebut juga diharapkan mampu memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM, memperpendek rantai distribusi, memperkuat pemasaran produk lokal, serta meningkatkan posisi tawar petani dan pelaku usaha kecil.

Bagi koperasi seperti di Kalurahan Tamanmartani dan Kelurahan Demangan, pendampingan menjadi pelengkap dari upaya pemberdayaan yang telah berjalan. Sebab, keberhasilan koperasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya unit usaha yang dimiliki, tetapi juga kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi secara profesional agar manfaat ekonomi dapat terus dirasakan para anggotanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|