2025, Pakistan Punya Udara Terburuk Dunia, Bagaimana Indonesia?

1 hour ago 3

Harianjogja.com, JOGJA— Pakistan tercatat sebagai negara dengan kualitas udara terburuk di dunia sepanjang 2025 berdasarkan laporan IQAir. Konsentrasi partikel halus PM2.5 di negara tersebut mencapai rata-rata 67,3 mikrogram per meter kubik, atau 13,5 kali lebih tinggi dibandingkan pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Angka tersebut menempatkan Pakistan di posisi pertama dari 143 negara, wilayah, dan teritori yang dianalisis IQAir dalam World Air Quality Report 2025. Laporan itu menggunakan data dari 9.446 kota yang dikumpulkan melalui jaringan pemantauan kualitas udara.

PM2.5 menjadi salah satu indikator utama dalam laporan karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke sistem pernapasan. Tingginya konsentrasi partikel ini menjadi gambaran penting mengenai tingkat paparan polusi udara yang dihadapi masyarakat di wilayah yang bersangkutan.

Di bawah Pakistan, Bangladesh berada di posisi kedua dengan rata-rata PM2.5 sebesar 66,1 mikrogram per meter kubik. Tajikistan menyusul di posisi ketiga dengan 57,3 mikrogram per meter kubik, sedangkan Chad berada di peringkat keempat dengan 53,6 mikrogram per meter kubik.

Republik Demokratik Kongo melengkapi lima besar negara dengan tingkat polusi udara tertinggi pada 2025 dengan konsentrasi rata-rata 50,2 mikrogram per meter kubik.

Hanya 13 Negara dan Wilayah Memenuhi Pedoman WHO

Besarnya kesenjangan antara negara dengan polusi tertinggi dan standar kesehatan global terlihat dari jumlah wilayah yang berhasil memenuhi pedoman WHO. IQAir mencatat hanya 13 negara, wilayah, dan teritori yang memiliki rata-rata tahunan PM2.5 tidak lebih dari 5 mikrogram per meter kubik.

Jumlah tersebut memang meningkat dibandingkan laporan 2024 yang mencatat hanya tujuh negara memenuhi pedoman WHO. Namun, secara keseluruhan, 130 dari 143 negara dan wilayah atau sekitar 91 persen masih mencatat konsentrasi PM2.5 di atas batas pedoman tahunan WHO.

Negara dan wilayah yang memenuhi pedoman tersebut antara lain Australia, Islandia, Estonia, Panama, Grenada, Barbados, Andorra, Polinesia Prancis, Puerto Riko, Kepulauan Virgin AS, Kaledonia Baru, Bermuda, dan Réunion.

Di tingkat kota, kondisi global juga menunjukkan tantangan yang serupa. Hanya 14 persen kota yang dipantau IQAir pada 2025 memenuhi pedoman tahunan PM2.5 WHO, turun dari 17 persen pada 2024.

Loni di India Jadi Kota Paling Berpolusi

Jika peringkat negara menempatkan Pakistan di urutan pertama, kota dengan konsentrasi PM2.5 tertinggi justru berada di India. Loni tercatat sebagai kota paling berpolusi di dunia pada 2025 dengan rata-rata PM2.5 mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik.

Konsentrasi tersebut meningkat hampir 23 persen dibandingkan 2024 dan lebih dari 22 kali pedoman tahunan WHO. Hotan di wilayah Xinjiang, Tiongkok, berada di posisi berikutnya dengan konsentrasi 109,6 mikrogram per meter kubik.

Sebanyak 25 kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia seluruhnya berada di India, Pakistan, dan Tiongkok. India menjadi salah satu negara yang paling banyak mengisi daftar tersebut, termasuk tiga dari empat kota dengan tingkat polusi tertinggi.

Kondisi kualitas udara pada 2025 juga dipengaruhi kejadian lingkungan berskala besar. Kebakaran hutan di Kanada, misalnya, turut meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan membawa asap hingga ke wilayah Amerika Serikat serta Eropa.

Data Pemantauan AS Berkurang, Chad Terdampak

Laporan IQAir juga memberi perhatian pada persoalan ketersediaan data. Program pemantauan kualitas udara global Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di kedutaan dan konsulat dihentikan pada Maret 2025 karena persoalan anggaran.

Berakhirnya program tersebut menyebabkan jutaan orang kehilangan akses terhadap data kualitas udara, terutama di wilayah yang sebelumnya mengandalkan pemantauan dari fasilitas diplomatik Amerika Serikat.

Kondisi ini ikut memengaruhi pembacaan data Chad. Negara yang pada 2024 berada di posisi pertama dalam daftar negara paling berpolusi tersebut turun ke posisi keempat pada 2025. Namun, IQAir mengingatkan bahwa penurunan itu kemungkinan tidak sepenuhnya menunjukkan perbaikan kualitas udara karena adanya kekurangan data.

"Hilangnya data pada bulan Maret membuat seolah-olah terjadi penurunan signifikan pada tingkat PM2.5 di Chad, tetapi kenyataannya kita tidak tahu," kata Christi Chester Schroeder, penulis utama laporan IQAir.

Kesenjangan data tersebut juga menyebabkan Burundi, Turkmenistan, dan Togo tidak dapat dimasukkan dalam laporan 2025 karena informasi yang tersedia tidak mencukupi. Ketiganya sebelumnya termasuk negara yang masuk dalam kelompok 30 negara dengan tingkat polusi tertinggi pada laporan 2024.

Indonesia dan Sejumlah Negara Asia Tenggara Mengalami Perbaikan

Di tengah gambaran kualitas udara global yang masih buruk, terdapat perkembangan berbeda di Asia Tenggara. Laos, Kamboja, dan Indonesia termasuk negara yang mengalami penurunan konsentrasi PM2.5 pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

IQAir mengaitkan salah satu faktor penurunan tersebut dengan kondisi La Niña yang membawa cuaca lebih basah dan berangin. Kondisi tersebut membantu mengurangi konsentrasi polutan di udara.

Mongolia juga mengalami penurunan konsentrasi PM2.5 yang cukup besar. Rata-rata tahunan PM2.5 di negara tersebut turun 31 persen menjadi 17,8 mikrogram per meter kubik.

Secara keseluruhan, 75 negara mencatat penurunan rata-rata PM2.5 pada 2025. Sebaliknya, 54 negara mengalami kenaikan konsentrasi dibandingkan tahun sebelumnya, sementara dua negara tercatat tidak mengalami perubahan dan 12 negara atau wilayah baru masuk dalam cakupan laporan.

Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi kualitas udara tidak bergerak seragam di setiap wilayah. Sebagian negara mengalami perbaikan, termasuk Indonesia, tetapi sebagian besar negara yang dipantau masih berada di atas pedoman tahunan WHO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|