New York Pertimbangkan Larangan YouTube di Sekolah, Ini Alasannya

3 hours ago 3

Jumali

Jumali Rabu, 16 September 2026 06:57 WIB

New York Pertimbangkan Larangan YouTube di Sekolah, Ini Alasannya

Foto ilustrasi Youtube. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Kota New York, Amerika Serikat, mempertimbangkan pembatasan penggunaan YouTube di sekolah dasar dan menengah. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan siswa terhadap perangkat digital dalam kegiatan pendidikan.

Wacana itu muncul setelah New York lebih dulu menerapkan pembatasan terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau AI di sekolah umum. Langkah tersebut diarahkan sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan teknologi secara berlebihan di lingkungan pendidikan.

Mengutip The Chosun Daily, Selasa (15/9/2026), kebijakan pembatasan teknologi tersebut berkaitan dengan kekhawatiran mengenai prestasi akademik siswa sekaligus penggunaan perangkat digital yang semakin melekat dalam aktivitas belajar.

Rencana pembatasan YouTube disebut tengah disiapkan oleh dua anggota Dewan Kota New York, yakni Shekar Krishnan dan Eric Dinowitz. Keduanya berencana memperkenalkan undang-undang yang mengatur penggunaan platform tersebut di sekolah.

Krishnan merupakan ketua Komite Pengawasan dan Investigasi Dewan Kota New York. Sementara Dinowitz menjabat ketua Komite Pendidikan.

Keduanya menyampaikan bahwa persoalan prestasi akademik serta keluhan dari orang tua dan guru menjadi salah satu latar belakang munculnya rencana tersebut.

"Prestasi akademik anak-anak menurun, dan keluhan dari orang tua dan guru terus berlanjut," kata kedua anggota dewan tersebut.

Orang Tua Kesulitan Membatasi Screen Time

Krishnan juga menyoroti penggunaan aplikasi berbasis gim dan YouTube yang menurutnya membuat upaya orang tua mengatur waktu penggunaan layar anak menjadi lebih sulit. Persoalan tersebut tidak hanya terjadi ketika anak berada di rumah, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan menggunakan perangkat digital selama berada di sekolah.

Menurut Krishnan, orang tua yang berusaha membatasi screen time anak menghadapi tantangan ketika anak sebelumnya telah terbiasa mendapatkan stimulasi dari berbagai aplikasi digital yang digunakan di sekolah.

"Orang tua yang mencoba membatasi waktu penggunaan layar anak-anak mereka di rumah merasa tidak berdaya karena stimulasi dopamin yang diterima anak-anaknya melalui aplikasi berbasis gim dan YouTube di sekolah," tegas Krishnan.

Ia juga menyoroti usia anak yang masih berada dalam tahap perkembangan. Kondisi tersebut membuat penggunaan teknologi menjadi perhatian dalam pembahasan kebijakan pendidikan di New York.

"Ini mengkhawatirkan bagi anak-anak yang otaknya masih berkembang dan kemampuan kognitifnya masih dalam tahap pematangan," lanjutnya.

Gawai Masih Dipakai untuk Belajar

Rencana pembatasan YouTube tersebut muncul ketika perangkat digital masih menjadi bagian penting dari aktivitas belajar di sekolah-sekolah New York. Siswa, misalnya, menggunakan iPad untuk mengikuti ujian dan mengerjakan tugas.

Pemkot New York juga menyediakan perangkat bagi siswa yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Kebijakan tersebut membuat akses terhadap perangkat digital menjadi bagian dari sarana pendukung pembelajaran bagi sebagian siswa.

Namun, penggunaan perangkat secara luas juga mengubah kebiasaan belajar. Aktivitas membaca melalui tablet, misalnya, disebut telah menggantikan penggunaan buku fisik di sejumlah rumah dan sekolah.

Perubahan tersebut kemudian memunculkan reaksi dari sejumlah orang tua. Kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi dalam pendidikan semakin menjadi perhatian ketika laporan menunjukkan hampir setengah siswa sekolah negeri di New York memperoleh nilai gagal dalam ujian standar negara bagian.

Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks dalam perdebatan mengenai seberapa besar penggunaan perangkat digital dan platform daring perlu ditempatkan dalam proses pembelajaran siswa.

AI Juga Dibatasi di Ruang Kelas

Selain membahas pembatasan YouTube, New York telah mengumumkan kebijakan pembatasan penggunaan AI selama satu tahun di ruang kelas. Kebijakan tersebut mencakup siswa mulai tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

Pembatasan AI diberlakukan bersamaan dengan pembatasan penggunaan perangkat elektronik di lingkungan sekolah. Sejumlah layanan AI generatif juga diblokir agar tidak dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran selama kebijakan tersebut berlaku.

Aplikasi yang disebut terkena pembatasan mencakup ChatGPT dan Gemini, selain sejumlah chatbot lainnya. Dengan demikian, kebijakan New York tidak hanya menyasar platform video seperti YouTube, tetapi juga penggunaan teknologi AI generatif dalam aktivitas siswa di sekolah.

Pembahasan mengenai YouTube menjadi bagian terbaru dari rangkaian kebijakan tersebut. Jika rancangan aturan yang disiapkan Krishnan dan Dinowitz diperkenalkan dan diterapkan, sekolah dasar dan menengah di New York akan menghadapi pembatasan tambahan terhadap penggunaan platform digital yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas siswa.

Sementara itu, kebijakan pembatasan AI yang telah diumumkan berjalan selama satu tahun dan mencakup penggunaan teknologi tersebut di ruang kelas untuk siswa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|