Ketua PBNU Kutuk Pembatasan Akses RS Indonesia di Gaza

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi atau yang akrab dipanggil Gus Fahrur mengecam keras pembatasan akses warga sipil Palestina ke Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza yang kini dilaporkan berada di bawah kendali militer Israel.

Menurut dia, kondisi tersebut bukan sekadar konflik biasa, melainkan krisis kemanusiaan yang terus melukai nurani dunia, terlebih rumah sakit itu dibangun dari donasi rakyat Indonesia.

“Apa yang terjadi di Gaza Strip hari ini bukan sekadar konflik, melainkan krisis kemanusiaan yang terus mengoyak nurani dunia. Informasi mengenai pembatasan akses warga sipil Palestina terhadap Rumah Sakit Indonesia—yang dibangun dari gotong royong rakyat Indonesia—menjadi luka tambahan yang tidak bisa kita abaikan,” ujar Gus Fahrur saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (23/4/2026). 

Dengan dikuasainya RS Indonesia di Gaza tersebut, ia pun menegaskan lima sikap utama PBNU. Pertama, mengutuk keras segala bentuk pelanggaran kemanusiaan, termasuk tindakan yang menghalangi akses layanan kesehatan bagi warga sipil.

"Rumah sakit adalah simbol kemanusiaan, bukan alat konflik," ucap Gus Fahrur. 

Kedua, Gus Fahrur mendesak Israel untuk mematuhi hukum humaniter internasional, khususnya prinsip perlindungan fasilitas medis sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa.

Ketiga, PBNU menegaskan bahwa Rumah Sakit Indonesia adalah amanah kemanusiaan rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina yang tidak boleh dikuasai atau dialihkan dari tujuan awalnya.

"Menegaskan bahwa Rumah Sakit Indonesia adalah amanah kemanusiaan rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina, yang tidak boleh dikuasai, dibatasi, atau dialihkan dari tujuan mulianya," kata Gus Fahrur. 

Keempat, lanjutnya, PBNU mendorong Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan langkah diplomasi yang lebih kuat dan terukur guna menekan pembukaan akses kemanusiaan secara penuh.

Kelima, masyarakat Indonesia diajak untuk terus menjaga solidaritas, memperkuat doa, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan secara terorganisir dan berkelanjutan.

"Mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menjaga solidaritas, memperkuat doa, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan secara terorganisir dan berkelanjutan," jelas Gus Fahrur.

Seperti diketahui, sejak 20 April 2026 beredar foto di berbagai platform media, spanduk berbahasa Ibrani yang dipasang militer penjajah Israel di sisi timur laut gedung RS Indonesia di Gaza. Spanduk bertuliskan, “Lihatlah, suatu kaum yang bangkit seperti singa betina, yang mengaum seperti singa jantan”, dipasang dalam rangka Hari Paskah Yahudi.

Berdasarkan keterangan Tim MER-C Indonesia, kejadian tersebut terjadi sekitar awal April 2026. Tentara Israel masuk dan melaksanakan perayaan serta tarian di atap Rumah Sakit Indonesia. Saat ini, menurut sumber lokal MER-C di Gaza, gedung RS Indonesia telah kosong dan tidak ada aktivitas.

Menanggapi kejadian tersebut MER-C Indonesia menegaskan bahwa penguasaan wilayah Gaza utara oleh penjajah Israel merupakan kejahatan kemanusiaan. Penyalahgunaan fungsi bangunan Rumah Sakit Indonesia juga merupakan pelanggaran serius terhadap Hukum Humaniter Internasional, khususnya Konvensi Jenewa 1949, serta tindakan yang memprovokasi moral masyarakat Palestina dan Indonesia.

"MER-C Indonesia mendorong pemerintah Indonesia agar menyampaikan nota protes keras atas tindakan provokatif tentara Israel tersebut dan mendesak agar Israel menarik diri dari wilayah Gaza yang diduduki secara ilegal," kata MER-C dikutip dari pernyataan resmi di Instagram-nya, Kamis (23/4/2026).

Rumah Sakit Indonesia adalah bukti solidaritas masyarakat Indonesia kepada masyarakat Palestina. Pembangunan RS Indonesia yang diinisiasi MER-C dari hasil donasi masyarakat Indonesia mulai dibangun pada 14 Mei 2011.

Rumah Sakit Indonesia mulai beroperasi pada 27 Desember 2015 setelah Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza secara resmi membukanya, dan diresmikan secara simbolis oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 9 Januari 2016 di Jakarta. 

Selama genosida, rumah sakit ini telah menjadi bukti usaha warga Gaza menjaga kedaulatan dan mempertahankan nilai kemanusiaan.

Sejak Oktober 2023 sampai Oktober 2025, militer Israel telah melakukan lebih dari 300 serangan ke Rumah Sakit Indonesia dan wilayah sekitarnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|