Kaltim gencarkan diversifikasi pangan lokal hadapi perubahan iklim.
REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA, – Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur mengajak masyarakat untuk beralih ke pangan lokal sebagai upaya menghadapi ancaman gagal panen akibat perubahan iklim. Langkah ini disampaikan oleh Dina Widyastuti, Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DPTPH Kaltim di Samarinda, Kamis.
Dalam dialog bertajuk "Bijak Kelola Pangan Hadapi Perubahan Iklim" di Samarinda, Dina menjelaskan bahwa cuaca ekstrem berdampak langsung pada pola tanam dan produktivitas petani. "Kondisi cuaca yang tidak menentu menuntut adaptasi kuat. Kita harus memastikan ketersediaan pangan tetap aman dengan tidak bergantung pada satu jenis komoditas saja," ujarnya.
Dina menekankan pentingnya membiasakan konsumsi pangan lokal sebagai alternatif beras, seperti ubi dan jagung. "Kaltim sendiri kaya akan sumber pangan non beras yang potensial dikembangkan sebagai pilar ketahanan pangan daerah jangka panjang," tambahnya.
Komoditas Unggulan Lokal
Dina memaparkan sejumlah komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar sebagai substitusi karbohidrat sekaligus komoditas ekonomi tinggi, yakni singkong gajah, Jelay (Hanjeli) atau tanaman tradisional di Kutai Barat, pisang kepok, jagung, dan umbi-umbian.
Pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas melalui penguatan jalur distribusi. "Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga soal distribusi yang lancar dan kesadaran masyarakat dalam mengelola pangan secara bijak," tambahnya lagi.
Dina juga menyampaikan pesan penting mengenai pengurangan pemborosan makanan (food waste). Mengurangi sampah makanan dan mendukung produk lokal adalah kontribusi nyata masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan iklim global.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

1 week ago
27











































