Rupiah Melemah, Pengamat Dorong Pemerintah Perkuat Kepercayaan Pasar

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait “orang di desa tidak pakai dolar” perlu disampaikan secara lebih hati-hati di tengah tren pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp 17.600 per dolar AS. Menurut Ibrahim, pernyataan pejabat negara dapat memengaruhi persepsi pasar dan sentimen publik terhadap kondisi ekonomi nasional.

“Pernyataan Presiden Prabowo terlihat seperti ingin menenangkan masyarakat bahwa pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak langsung bagi sebagian masyarakat desa yang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Namun, di sisi lain, pernyataan tersebut dapat memunculkan beragam persepsi di pasar,” ujar Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Senin (18/5/2026).

Pada perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah dibuka melemah pada level Rp 17.650 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.597 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10.40 WIB, rupiah melemah 79,50 poin atau 0,45 persen ke level Rp 17.676 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik, antara lain penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk pembagian dividen dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset berbasis dolar AS juga turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Menurut Ibrahim, di tengah kondisi tersebut, komunikasi pemerintah diharapkan dapat memberikan optimisme sekaligus keyakinan kepada pelaku pasar mengenai langkah-langkah strategis yang disiapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Pernyataan dari pemerintah tentu sangat diperhatikan pasar. Karena itu, masyarakat dan pelaku usaha berharap ada penjelasan yang menenangkan sekaligus memberikan arah solusi terhadap tekanan ekonomi yang sedang terjadi,” tuturnya.

Ibrahim juga menilai masyarakat di daerah saat ini semakin memahami perkembangan ekonomi dan pasar keuangan seiring kemajuan teknologi dan akses informasi digital yang semakin luas.

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan pemerintah diharapkan terus memperkuat langkah-langkah strategis dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui pengendalian impor energi, penguatan bauran energi seperti program B50, serta kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar.

“Yang dibutuhkan masyarakat dan pasar saat ini adalah optimisme serta solusi konkret agar nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dan perekonomian nasional tetap terjaga,” kata Ibrahim.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|