Jelang Iduladha, Difabel Jadi Sales Kambing di Bantul

8 hours ago 5

Jelang Iduladha, Difabel Jadi Sales Kambing di Bantul Sejumlah pembeli didampingi penjual dari kalangan difabel saat melihat hewan ternak di Kandang Kambing Mutiara Eva di kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul, Jumat (1/5/2026). - Harian Jogja/Yosef.

Harianjogja.com, BANTUL—Menjelang Iduladha 2026, inovasi penjualan kambing kurban di Bantul mencuri perhatian. Sebuah kandang kambing di kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul melibatkan warga difabel sebagai sales, membuka peluang kerja sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.

Inisiatif ini digagas oleh pemilik Kandang Kambing Mutiara Eva, Adi Karnadi, yang sengaja menghadirkan pendekatan berbeda dalam pemasaran hewan kurban tahun ini. Ia menggandeng empat penyandang disabilitas untuk ikut menawarkan kambing kepada calon pembeli.

Para difabel yang sebelumnya bekerja serabutan kini mendapatkan peran baru sebagai tenaga penjualan. Selain memperoleh pengalaman, mereka juga mendapat tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saya lihat sekarang ini kan difabel itu agak susah untuk mencari pekerjaan atau kesempatan. Tahun ini saya ingin beda. Saya melibatkan difabel karena saya ingin membuktikan bahwa difabel itu mampu," kata Adi, di kandang kambingnya kawasan Tamantirto, Kasihan, Bantul, Jumat (1/5/2026).

Menurut Adi, tidak ada perbedaan antara difabel dan non-difabel dalam hal etos kerja. Ia menilai para pekerja difabel justru menunjukkan kedisiplinan dan semangat kerja yang tinggi sejak awal direkrut.

"Setelah saya berikan kesempatan, pekerjaannya itu semuanya semangat, datangnya tepat waktu, dan mereka benar-benar etos kerjanya sangat luar biasa," ucapnya.

Untuk setiap kambing yang berhasil dijual, para sales difabel mendapatkan bonus Rp100.000 per ekor, di luar gaji bulanan yang juga diberikan. Hingga kini, sekitar 260 ekor kambing telah terjual ke berbagai wilayah di DIY dan Jawa Tengah.

"Mereka tidak saya beri target, karena teman-teman ini kan ada juga yang kerja di tempat lain. Jadi saya kasih kebebasan saja. Namun meskipun tidak terikat waktu kerjanya, semangat mereka luar biasa," jelasnya.

Tahun ini, kandang tersebut menyediakan sekitar 700 ekor kambing dengan kisaran harga Rp2 juta hingga Rp7 juta per ekor. Permintaan diperkirakan terus meningkat seiring mendekatnya Hari Raya Iduladha.

Salah satu sales difabel asal Kulon Progo, Ahmad Dodi (27), mengaku terbantu dengan kesempatan tersebut. Ia menyebut peluang ini menjadi solusi di tengah keterbatasan akses pekerjaan formal bagi penyandang disabilitas.

"Sudah sekitar satu bulan jualan ini dan saya sudah jual sekitar lima ekor," jelasnya.

Dodi bertugas menawarkan kambing kepada pembeli yang datang, setelah sebelumnya mendapat pembekalan terkait harga, jenis, dan informasi produk agar mampu melayani dengan baik.

"Alhamdulillah banyak yang beli karena kambing di sini sehat, bagus dan kandangnya bersih," ungkapnya.

Pengalaman sebelumnya dalam jual beli daring juga membantu Dodi dalam menjalankan peran barunya. Ia mengaku senang karena pendapatannya bertambah dan dapat menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.

"Saya merasa senang karena ekonomi terbantu dari penjualan kambing dan bisa untuk memenuhi kebutuhan saya," katanya.

Apresiasi juga datang dari pembeli, salah satunya Aris Suprihadi (60), yang menilai langkah ini sebagai bentuk pemberdayaan yang patut didukung. Ia bahkan mengaku sudah menjadi pelanggan tetap di kandang tersebut.

"Mereka punya hak yang sama dengan semua orang, saya apresiasi upaya ini. Saya sudah langganan empat kali di sini setiap perayaan kurban dan selalu puas baik itu soal pemeliharaan, kebersihan, dan harga," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|