AS Tarik Kapal Induk USS Gerald Ford di Timur Tengah, Ini Dampaknya

2 hours ago 3

AS Tarik Kapal Induk USS Gerald Ford di Timur Tengah, Ini Dampaknya Kapal Induk Amerika Serikat USS Gerald R. Ford. ANTARA/Xinhua/HO-PIXSELL/Zvonimir Barisin - aa.

Harianjogja.com, WASHINGTON — Pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah kapal induk USS Gerald R. Ford resmi meninggalkan wilayah tersebut. Dengan penarikan ini, kini tersisa dua kapal induk AS yang masih beroperasi di kawasan, yakni USS Abraham Lincoln dan USS George H. W. Bush.

USS Gerald R. Ford sebelumnya mencatat sejarah dengan masa penugasan lebih dari 10 bulan di laut, menjadikannya salah satu pengerahan terpanjang kapal induk AS sejak era Perang Vietnam. Selama penugasannya, kapal ini juga sempat mengalami insiden kebakaran di ruang laundry utama pada 12 Maret, yang mengakibatkan dua awak kapal mengalami luka.

Di tengah penyesuaian kekuatan militer tersebut, dinamika geopolitik di kawasan tetap memanas. Donald Trump dilaporkan menerima paparan dari CENTCOM terkait opsi kebijakan baru terhadap Iran. Paparan itu dipimpin oleh Brad Cooper dan membahas berbagai skenario, termasuk kemungkinan aksi militer.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa AS tengah mempertimbangkan operasi militer “singkat namun intens” yang menargetkan infrastruktur strategis Iran. Tujuannya adalah meningkatkan tekanan agar Teheran kembali ke meja perundingan, khususnya dalam isu program nuklir yang hingga kini masih menjadi sumber ketegangan.

Selain opsi serangan langsung, terdapat pula skenario lain seperti penguasaan sebagian jalur strategis di Selat Hormuz. Kawasan ini merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Pengendalian wilayah tersebut dinilai dapat membuka kembali jalur pelayaran komersial sekaligus memberi tekanan ekonomi terhadap Iran, meski berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Opsi lain yang turut dibahas adalah operasi terbatas oleh pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi. Langkah ini dinilai sebagai upaya pencegahan terhadap potensi pengembangan senjata nuklir.

Dalam pernyataannya, Trump mengisyaratkan bahwa blokade laut bisa menjadi strategi yang lebih efektif dibandingkan serangan langsung. Meski demikian, ia tetap membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika Iran tidak menunjukkan perubahan sikap.

Sementara itu, pihak militer AS juga mengantisipasi potensi respons dari Iran, termasuk serangan balasan terhadap pangkalan atau aset militer AS di Timur Tengah. Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, disebut turut terlibat dalam pembahasan strategi tersebut.

Dengan masih ditempatkannya dua kapal induk di kawasan, AS menunjukkan bahwa kehadiran militernya tetap kuat meski terjadi rotasi armada. Situasi ini menandakan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih jauh dari mereda dan berpotensi berkembang tergantung dinamika diplomasi antara Washington dan Teheran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|