REPUBLIKA.CO.ID, NORWICH -- Memisahkan lonjakan emisi gas rumah kaca yang disebabkan peristiwa alam dengan yang dihasilkan aktivitas manusia bukan hal yang mudah. Selain pembakaran bahan bakar fosil, letusan gunung berapi dan kebakaran hutan juga mengirimkan jutaan ton gas dan partikel kecil (aerosol) ke atmosfer hingga memicu lonjakan suhu di permukaan Bumi.
Para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan University of East Anglia (UEA) berhasil memastikan sejumlah peristiwa alam tidak mempercepat pemanasan global. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pekan ini, para ilmuwan meneliti tiga peristiwa.
Yakni erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991, kebakaran hutan Australia pada 2019–2020, dan erupsi gunung bawah laut Hunga Tonga di Pasifik Selatan pada 2022. Ketiga peristiwa ini berdampak signifikan pada suhu di stratosfer.
Stratosfer terletak di atas troposfer, lapisan paling bawah atmosfer yang paling dekat dengan permukaan Bumi. Di troposfer inilah pemanasan global melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Erupsi Pinatubo menunjukkan pemanasan di stratosfer dibarengi dengan pendinginan troposfer. Kebakaran hutan Australia dan erupsi Hunga Tonga juga menunjukkan pemanasan signifikan di stratosfer. Namun, keduanya tidak memicu sinyal terdeteksi adanya pendinginan di troposfer selama dua tahun setelah kejadian.
Pemahaman baru ini membantu para ilmuwan memastikan kontribusi aktivitas manusia terhadap pemanasan global lebih besar dibandingkan peristiwa alam.
Ilmuwan tamu di Departemen Ilmu Bumi, Atmosfer, dan Keplanetan MIT sekaligus salah satu penulis laporan penelitian ini, Yaowei Li, mengatakan memahami respons iklim terhadap peristiwa alam akan membantu memahami perubahan iklim yang diakibatkan aktivitas manusia.
“Tidak seperti pendinginan troposfer dan permukaan Bumi saat letusan Pinatubo, hasil penelitian kami mengindikasikan kebakaran hutan Australia dan erupsi Hunga Tonga mungkin tidak berperan dalam percepatan pemanasan permukaan Bumi beberapa tahun terakhir. Maka pasti ada faktor lain,” kata Li seperti dikutip dari situs resmi University of East Anglia, Selasa (24/2/2026).
Salah satu ilmuwan yang terlibat dalam studi ini, Profesor Susan Solomon dari MIT, berharap ke depan para ilmuwan juga menggunakan kerangka kerja statistik saat menganalisis erupsi gunung berapi dan kebakaran hutan besar. Lembaga-lembaga meteorologi internasional mencatat suhu permukaan global dalam beberapa tahun terakhir mencapai rekor tertinggi sejak pencatatan dilakukan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) baru-baru ini mengonfirmasi periode 2023 hingga 2025 menjadi tiga tahun terpanas dalam catatan sejarah, sementara 11 tahun terakhir merupakan 11 tahun terpanas yang pernah direkam. Bumi memang terus menghangat, terutama akibat aktivitas manusia yang selama berabad-abad melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer.
Gas rumah kaca adalah gas di atmosfer, seperti karbon dioksida dan metana, yang mampu menahan panas Matahari sehingga suhu Bumi meningkat. Namun, selain gas rumah kaca, atmosfer juga menerima emisi besar lain dari peristiwa alam, seperti gas sulfur dan uap air dari letusan gunung berapi serta partikel asap dari kebakaran hutan.
Li dan rekan-rekannya mempertanyakan apakah peristiwa-peristiwa alam tersebut dapat berdampak pada suhu global dan apakah dampaknya cukup jelas untuk terdeteksi.
“Peristiwa-peristiwa ini luar biasa dan sangat unik dalam hal materi yang diinjeksi ke ketinggian yang berbeda-beda. Jadi, kami mengajukan pertanyaan apakah peristiwa-peristiwa ini benar-benar mengganggu suhu global hingga tingkat yang dapat diidentifikasi dari kebisingan meteorologi alami, dan apakah mereka dapat berkontribusi pada pemanasan permukaan global yang luar biasa yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir?” kata Li.

4 hours ago
3















































