Harianjogja.com, JOGJA—Cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia selama musim kemarau meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada anak, termasuk heat stroke yang dapat berujung pada kerusakan organ hingga mengancam nyawa. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena anak-anak memiliki kemampuan adaptasi terhadap suhu panas yang belum sebaik orang dewasa.
Peringatan mengenai bahaya cuaca panas sebenarnya telah disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui berbagai kanal informasi resmi. Kemenkes mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap ancaman dehidrasi berat dan heat stroke, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, balita, dan anak-anak yang banyak beraktivitas di luar ruangan selama musim kemarau.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, M.Med.Sc., Sp.KKLP., menjelaskan bahwa fenomena cuaca panas yang terjadi belakangan ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penurunan kondisi kesehatan pada anak. Menurutnya, sistem termoregulasi atau pengatur suhu tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu bekerja seefektif orang dewasa ketika menghadapi suhu lingkungan yang sangat tinggi.
"Anak-anak berada dalam fase pertumbuhan aktif sehingga sistem regulasi biologis di dalam tubuh mereka belum bekerja sesempurna orang dewasa. Hal inilah yang membuat mereka jauh lebih sensitif terhadap fluktuasi lingkungan yang ekstrem. Ketika cuaca panas menyengat terjadi secara konstan, beban metabolik yang ditanggung tubuh anak akan berlipat ganda," urai dr. Siti saat memberikan keterangan medis, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat anak lebih rentan mengalami heat stroke adalah karakteristik fisiologis tubuh mereka. Luas permukaan tubuh anak relatif lebih besar dibandingkan berat badannya sehingga panas dari lingkungan dapat terserap lebih cepat ketika suhu udara meningkat tajam.
Selain itu, aktivitas fisik yang tinggi turut memperbesar risiko. Saat bermain atau bergerak aktif, tubuh anak menghasilkan panas metabolik lebih besar dibandingkan orang dewasa. Di sisi lain, fungsi kelenjar keringat sebagai sistem pendingin alami tubuh belum berkembang secara optimal sehingga proses pelepasan panas berlangsung kurang efektif.
"Respons tubuh anak terhadap paparan panas sangat spesifik. Laju penyerapan panas luar berjalan sangat cepat, sementara produksi energi panas dari dalam tubuh saat mereka aktif bergerak juga sangat masif. Hambatannya, mekanisme ekskresi keringat belum optimal, membuat proses pembuangan suhu panas dari dalam tubuh menjadi lebih sulit," papar dr. Siti.
Kerentanan tersebut juga dipengaruhi faktor perilaku. Anak-anak sering kali terlalu fokus bermain sehingga tidak menyadari tanda-tanda awal tubuh mengalami kelelahan akibat panas. Mereka juga belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengenali sinyal bahaya seperti rasa haus berlebihan, pusing, atau tubuh yang mulai melemah.
"Masyarakat harus menyadari bahwa heat stroke merupakan bentuk kegawatdaruratan medis yang fatal. Ini bukan sekadar fenomena gerah atau kepanasan biasa, melainkan fase krusial di mana sistem kontrol suhu tubuh mengalami kelumpuhan total. Jika terlambat diintervensi, dampaknya bisa memicu kerusakan permanen pada organ vital seperti otak, jantung, hingga ginjal," tegasnya.
Sebelum memasuki fase heat stroke, tubuh anak umumnya menunjukkan gejala awal berupa heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Kondisi ini ditandai dengan keluarnya keringat berlebihan, sakit kepala, rasa lelah yang berat, mual, muntah, hingga kram otot.
Apabila gejala tersebut tidak segera ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi heat stroke yang ditandai dengan perubahan perilaku, kebingungan, penurunan kesadaran, mengantuk berat, hingga pingsan secara tiba-tiba.
"Potensi risiko ini membayangi semua anak, namun kelompok bayi dan balita menduduki hierarki tertinggi sebagai yang paling rentan. Oleh sebab itu, ketajaman insting dan pengawasan ketat dari orang tua menjadi kunci utama untuk mendeteksi gejala awal sebelum kondisinya memburuk ke fase yang mengancam nyawa," tambah dr. Siti.
Panduan Pertolongan Pertama: Jangan Beri Obat Penurun Panas
Masih banyak orang tua yang keliru dalam memberikan pertolongan pertama ketika anak mengalami heat stroke. Kondisi ini sering disamakan dengan demam akibat infeksi sehingga penanganan yang dilakukan justru tidak tepat dan berpotensi memperparah keadaan.
Menurut dr. Siti Rizki Fauziah, prinsip utama penanganan heat stroke adalah menurunkan suhu inti tubuh secepat mungkin melalui metode pendinginan fisik sembari segera mencari bantuan medis. Penanganan ini berbeda dengan tata laksana demam akibat infeksi virus maupun bakteri.
"Bila orang tua melihat anak mulai memproduksi keringat berlebih, tampak kepayahan menahan panas, atau mulai mengeluhkan ketidaknyamanan pada tubuhnya, langkah pertama adalah segera mengevakuasi anak ke area yang teduh atau ruangan ber-AC. Berikan waktu beristirahat total dan penuhi kebutuhan hidrasinya," terangnya kepada Humas UMY.
Namun apabila anak telah menunjukkan tanda-tanda heat stroke seperti kebingungan, disorientasi, atau penurunan kesadaran, orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas kesehatan dan tidak mengandalkan metode pengobatan rumahan yang belum terbukti efektif.
Sambil menunggu bantuan medis atau selama perjalanan menuju rumah sakit, langkah darurat yang dapat dilakukan adalah memindahkan anak ke tempat yang sejuk, melepaskan pakaian yang tebal atau ketat, serta menyeka seluruh permukaan tubuh menggunakan air biasa atau air hangat suam-suam kuku.
"Basahi seluruh permukaan kulit anak memakai kain kompres atau spons yang telah dibasahi air biasa, lalu bantu akselerasi penguapan panas menggunakan kipas angin. Tempatkan juga kompres hangat pada area lipatan tubuh yang dilewati pembuluh darah besar, seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Metode ini sangat efektif mempercepat pelepasan suhu panas tubuh," urainya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemberian obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen bukanlah solusi untuk mengatasi heat stroke. Banyak orang tua masih menganggap suhu tubuh tinggi akibat serangan panas sama dengan demam infeksi, padahal mekanisme terjadinya kedua kondisi tersebut berbeda.
"Parasetamol maupun ibuprofen sama sekali tidak memiliki efikasi klinis untuk mengatasi heat stroke. Justru sebaliknya, saat tubuh anak mengalami dehidrasi berat dan organ dalamnya mengalami tekanan akibat suhu ekstrem, asupan obat-obatan tersebut justru akan memperberat kinerja organ hati serta ginjal. Fokus utama harus tetap pada pendinginan fisik," kata dr. Siti.
Salah Penanganan
Kesalahan lain yang harus dihindari adalah memaksa anak yang mengalami penurunan kesadaran untuk minum. Tindakan tersebut berisiko menyebabkan cairan masuk ke saluran pernapasan sehingga memicu aspirasi atau tersedak.
"Jika anak tampak sangat mengantuk, bingung, atau pingsan, jangan sekali-kali memasukkan cairan ke dalam mulutnya. Hindari juga penggunaan kompres alkohol atau menempelkan es batu secara langsung pada kulit karena justru bisa memicu penyempitan pembuluh darah. Gunakan air biasa agar penurunan suhu berjalan konstan dan aman," jelasnya.
Bagi anak yang masih sadar penuh, pemberian air putih atau larutan elektrolit dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Upaya deteksi dini dan penanganan cepat menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi berat akibat heat stroke, terutama saat cuaca panas ekstrem masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
"Kuncinya terletak pada deteksi dini. Jangan pernah menyepelekan keluhan anak saat mereka beraktivitas di bawah terik matahari. Semakin cepat orang tua mengenali gejalanya dan memberikan tindakan penyelamatan yang benar, semakin besar peluang anak terhindar dari fatalitas," pungkas dr. Siti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































