umar arsyad
Pendidikan dan Literasi | 2026-07-19 16:50:17
Potret Para Santri Setelah Acara Kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
"Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan."
Pepatah ini tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang pernah menjadi bagian dari Gerakan Pramuka.
Namun, di Pondok Modern Darussalam Gontor, ada satu semangat yang selalu hidup dalam setiap latihan kepramukaan, yaitu:
"We Are Scout, But We Are Muslim."
Kalimat sederhana ini mengandung makna yang mendalam. Santri Gontor adalah pramuka, tetapi identitas mereka sebagai seorang muslim tetap menjadi landasan utama dalam setiap aktivitas.
Kepramukaan bukan sekadar mengajarkan semaphore, tali-temali, atau baris-berbaris, melainkan menjadi media pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Belajar Memimpin dari Lapangan Pramuka
Kepramukaan di Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi salah satu wadah bagi santri untuk belajar memimpin secara langsung.
Melalui berbagai kegiatan di lapangan, setiap santri diberi kesempatan memikul amanah, mengambil keputusan, serta bekerja sama dalam sebuah regu.
Pengalaman tersebut melatih keberanian dan rasa tanggung jawab sejak dini. Jiwa kepemimpinan – pun tumbuh melalui praktik, bukan sekadar teori.
Dalam setiap kegiatan, santri belajar bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi anggotanya. Sikap disiplin, tanggap, dan rela berkorban terus ditanamkan selama proses kepramukaan berlangsung.
Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal ketika santri mengemban amanah di lingkungan pondok maupun di tengah masyarakat. Dengan demikian, kegiatan pramuka menjadi ruang belajar kepemimpinan yang nyata.
Pramuka sebagai Pendidikan Karakter di Gontor
Bagi Gontor, kepramukaan bukan sekadar kegiatan rutin mingguan, melainkan salah satu bagian dari sistem pendidikan yang membentuk karakter santri.
Setiap latihan dirancang untuk menumbuhkan jiwa kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, serta semangat saling membantu.
Pendidikan karakter tersebut berlangsung melalui pembiasaan dalam setiap aktivitas. Karena itu, setiap kegiatan memiliki nilai pendidikan.
Kepramukaan juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor, seperti keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam cara santri berinteraksi, memimpin, dan menyelesaikan tugas bersama-sama. Pendidikan seperti ini membentuk pribadi yang tidak hanya terampil, tetapi juga berakhlak. Inilah ciri khas kepramukaan yang hidup di lingkungan Pondok Gontor.
Semaphore: Media Pembentukan Pandu Islami
Semaphore memang dikenal sebagai salah satu keterampilan dalam kepramukaan. Namun, di Gontor, pembelajaran semaphore tidak berhenti pada kemampuan membaca atau mengirimkan sandi.
Setiap gerakan mengajarkan ketelitian, kesabaran, serta kekompakan antarsantri. Dari keterampilan sederhana inilah karakter mulai dibangun.
Pada akhirnya, tujuan kepramukaan di Gontor bukan hanya menghasilkan santri yang mahir atau pandai dalam berbagai teknik kepramukaan. Lebih dari itu, Gontor berupaya melahirkan pandu Islami yang berjiwa pemimpin, siap mengabdi, dan berakhlaqul karimah.
Keterampilan seperti semaphore hanyalah sarana menuju tujuan pendidikan yang lebih besar. Yakni membentuk generasi muslim yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Kepramukaan di Gontor membuktikan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membentuk karakter, kepemimpinan, dan jiwa pengabdian kepada masyarakat.
Dari kegiatan pramuka lahir pandu-pandu Islami yang siap mengamalkan motto, “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan” dalam kehidupan bermasyarakat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

11 hours ago
4











































