Petugas melayani warga mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Jalan Bukit Keminting, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (7/5/2026). Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyebutkan, antrean pembelian BBM yang didominasi pertalite dan pertamax disejumlah SPBU di Palangka Raya yang terjadi beberapa hari terakhir tersebut akibat dari meningkatnya aktivitas konsumsi dalam waktu bersamaan dan Pertamina memastikan stok BBM di Palangka Raya tersedia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Makassar Profesor Hamid Paddu menyatakan pelemahan kurs rupiah sangat berpengaruh terhadap harga bahan baku impor, termasuk bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Apalagi Indonesia telah menjadi net importir minyak sejak 2004.
Pada pertengahan Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dan menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS. Bahkan pada Kamis (14/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS.
Menurut Hamid, produksi minyak dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi domestik hanya sekitar 650 ribu barel per hari sehingga lebih dari 50 persen kebutuhan masih dipenuhi melalui impor.
“Impor tentu dibeli menggunakan valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” ujar Hamid dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Dia menjelaskan baik nilai tukar rupiah maupun harga minyak dunia saat ini telah melampaui asumsi APBN 2026. Nilai tukar dalam APBN dipatok Rp 16.500 per dolar AS, sedangkan harga minyak dunia saat ini mencapai 105 dolar AS per barel atau jauh di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah terkena dua tekanan. Pertama dari harga minyak dunia, kemudian dari kurs,” katanya.
Karena itu, Hamid menilai wajar apabila badan usaha, termasuk Pertamina, pada waktunya kembali menaikkan harga BBM nonsubsidi. Terlebih, pelemahan rupiah diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun.
sumber : ANTARA

1 day ago
7
















































