Harianjogja.com, JOGJA—Perhelatan seni rupa kontemporer Chapter Jogja 2026 kembali digelar di kawasan SD Tumbuh dan Jogja National Museum (JNM) pada 19-23 Juni 2026. Mengusung konsep Unique Art Fair, ajang ini tidak hanya menghadirkan karya seni dan transaksi pasar, tetapi juga membuka ruang pertemuan yang memperkuat ekosistem seni rupa Yogyakarta secara lebih luas.
Penyelenggaraan tahun ini menandai kembalinya Chapter Jogja ke kawasan JNM, ruang yang selama puluhan tahun menjadi salah satu titik penting perkembangan seni rupa di Yogyakarta. Momentum tersebut sekaligus melanjutkan semangat yang pernah dibangun melalui Jogja Art Fair (JAF), sebuah peristiwa seni yang memiliki jejak kuat dalam sejarah distribusi karya dan pertemuan para pelaku seni di Kota Gudeg.
Chapter Jogja pertama kali diselenggarakan pada 2025 sebagai upaya membaca kembali warisan Jogja Art Fair dalam konteks seni rupa kontemporer saat ini. Jika JAF dikenal sebagai Artist Art Fair yang berfokus pada distribusi karya dan perjumpaan antarseniman, maka Chapter Jogja mengembangkan gagasan tersebut menjadi Unique Art Fair yang menghadirkan gambaran lebih utuh mengenai ekosistem yang melahirkan karya-karya seni.
Di tengah menjamurnya art fair dan berbagai agenda seni kontemporer di Indonesia, Chapter Jogja memilih mengambil posisi yang berbeda. Perhelatan ini tidak dirancang sebagai pesaing platform seni yang telah ada, melainkan sebagai ruang untuk memperkenalkan ekosistem seni rupa Yogyakarta yang tumbuh melalui praktik artistik, komunitas, pendidikan, dan jejaring sosial yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Penyelenggaraan yang berdekatan dengan agenda ARTJOG juga dinilai menjadi peluang untuk memperluas akses publik terhadap seni rupa. Dengan memanfaatkan tingginya minat masyarakat terhadap berbagai agenda seni di Yogyakarta, Chapter Jogja menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berfokus pada pasar seni, tetapi juga pada pemahaman mengenai proses, jaringan, dan lingkungan yang menopang perkembangan seni rupa.
Kehadiran galeri dari berbagai daerah dan negara menjadi salah satu upaya mempertemukan dinamika seni rupa Yogyakarta dengan jejaring yang lebih luas. Melalui perjumpaan tersebut, diharapkan terjadi pertukaran gagasan, pengalaman, serta peluang kolaborasi yang berkelanjutan.
Sebagai perhelatan yang berangkat dari semangat Artist Art Fair, Chapter Jogja tetap menempatkan praktik artistik sebagai fondasi utama. Dalam konteks ini, galeri tidak hanya diposisikan sebagai ruang transaksi karya, tetapi juga sebagai mitra yang berkontribusi terhadap keberlanjutan praktik seni dan pengembangan karier seniman.
Pada penyelenggaraan 2026, sejumlah galeri dan ruang seni dari berbagai wilayah turut ambil bagian. Mereka adalah Nadi Gallery dari Jakarta, ArtSociates dari Bandung, Artemis Art Gallery dari Kuala Lumpur, serta Telitu Art Space dari Magelang. Kehadiran para peserta tersebut mencerminkan beragam pendekatan dalam pengelolaan seni rupa kontemporer, mulai dari galeri dengan jejaring internasional hingga ruang seni independen yang berkembang dari konteks lokal.
Selain galeri, Chapter Jogja juga melibatkan komunitas yang selama ini menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa Yogyakarta. Di antaranya adalah Ruang MES 56 dan Krack! Printmaking Collective.
Partisipasi komunitas tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap program, melainkan sebagai bentuk pengakuan terhadap peran mereka dalam membangun pengetahuan, praktik artistik, serta modal sosial yang menopang kehidupan seni rupa di Yogyakarta.
Keunikan Chapter Jogja terletak pada kemampuannya menghadirkan berbagai aktor dalam satu lanskap yang setara. Galeri, komunitas, ruang alternatif, akademisi, pelaku industri kreatif, kolektor, hingga masyarakat umum dipertemukan dalam ruang yang sama untuk membangun percakapan, kolaborasi, dan peluang baru.
Menurut penyelenggara, Yogyakarta memiliki kekuatan yang tidak selalu dapat diukur melalui nilai transaksi ekonomi, yakni modal sosial yang tumbuh dari tradisi kolektivitas, pendidikan seni, serta budaya berbagi pengetahuan. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam format art fair yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, sosial, simbolik, sekaligus pengetahuan secara bersamaan.
Karena itu, keberhasilan Chapter Jogja tidak semata-mata diukur dari jumlah karya yang terjual. Relasi baru yang terbangun, percakapan yang muncul, hingga peluang kolaborasi yang tercipta selama penyelenggaraan juga menjadi indikator penting dalam perhelatan ini.
Sebagai Unique Art Fair, Chapter Jogja menawarkan pendekatan berbeda dalam memaknai sebuah pameran seni. Jika sebagian besar art fair berorientasi pada pertemuan antara karya dan pasar, maka Chapter Jogja berusaha mempertemukan karya, komunitas, pasar, pengetahuan, dan publik dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Founder sekaligus Fair Director Chapter Jogja, Heri Pemad, menilai kawasan Jogja National Museum memiliki nilai penting bukan semata karena sejarah institusinya, melainkan karena tradisi sirkulasi kreatif yang telah tumbuh di dalamnya.
"Yang menarik dari kawasan Jogja National Museum bukan karena dulu ASRI dalam pengertian sejarah institusi. Yang diwariskan di tempat ini adalah tradisi sirkulasi kreatif; ketika seniman, mahasiswa, komunitas, galeri, dan publik saling bertemu lalu membangun hubungan yang terus bergerak dari generasi ke generasi. Chapter Jogja ingin menjadi bagian dari arus tersebut," ujar Heri Pemad.
Sementara itu, Artistic Director Chapter Jogja, Ignatia Nilu, menekankan bahwa nilai seni tidak hanya lahir dari transaksi jual beli karya, tetapi juga dari proses percakapan, eksposur, jejaring, legitimasi, dan keterlibatan publik yang terus berkembang.
"Jika ekonomi konvensional berbicara tentang pertukaran barang, ekonomi seni berbicara tentang sirkulasi nilai. Karya seni memperoleh maknanya melalui percakapan, eksposur, jejaring, legitimasi, dan berbagai bentuk keterlibatan publik yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam konteks itulah Chapter Jogja hadir sebagai Unique Art Fair yang tidak hanya mempertemukan karya dengan pasar, tetapi memperkuat ekosistem yang memungkinkan nilai seni terus diproduksi, dipertukarkan, dan diwariskan," kata Ignatia Nilu.
Melalui penyelenggaraan Chapter Jogja 2026, publik dapat melihat bagaimana seni rupa tidak hanya hidup melalui karya yang dipamerkan, tetapi juga melalui jaringan manusia, pertukaran gagasan, serta praktik kolektif yang terus berkembang di Yogyakarta dan terhubung dengan berbagai ekosistem seni dari daerah maupun negara lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































