BPBD Sleman Petakan Lima Wilayah Berpotensi Kekeringan Dampak El Nino

4 hours ago 3

BPBD Sleman Petakan Lima Wilayah Berpotensi Kekeringan Dampak El Nino

Ilustrasi kekeringan - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, SLEMAN — Ancaman kekeringan mulai diantisipasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman seiring potensi dampak fenomena El Nino pada 2026. Sejumlah wilayah dipetakan masuk kategori rawan, terutama jika terjadi penurunan debit air dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menyebut ada lima kapanewon yang berpotensi terdampak kekeringan, yakni Tempel, Turi, Minggir, Moyudan, dan Seyegan. Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penurunan ketersediaan air.

“Kami sudah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan pada 2026, terutama di lima kapanewon tersebut,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).

Namun demikian, Bambang menegaskan potensi kekeringan tidak terjadi secara otomatis. Ada sejumlah faktor penentu, terutama terkait ketersediaan debit air di saluran utama dan sumber air alami.

Untuk wilayah Sleman Barat, misalnya, kondisi sangat bergantung pada aliran air di Selokan Mataram dan Van Der Wijck. Jika kedua aliran tersebut mengalami penghentian atau penurunan debit, maka risiko kekeringan meningkat signifikan.

“Kalau aliran Selokan Mataram dan Van Der Wijck dimatikan, wilayah barat berpotensi terdampak. Tapi jika tetap mengalir, insyaallah masih aman,” jelasnya.

Sementara itu, di wilayah Sleman Utara seperti Pakem, ancaman kekeringan berkaitan erat dengan debit sumber air dari kawasan Merapi. Jika suplai air dari lereng Merapi menurun, masyarakat berpotensi mengalami keterbatasan air bersih.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Sleman menyiapkan skema dropping air bersih dengan anggaran sekitar Rp25 juta. Dengan estimasi biaya Rp500.000 per tangki, anggaran tersebut dapat digunakan untuk mendistribusikan sekitar 50 tangki air.

Meski demikian, Bambang mengakui bahwa dropping air bukan solusi jangka panjang. Ia mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan konservasi air, termasuk menabung air saat musim hujan.

Selain itu, pengembangan jaringan perpipaan melalui BUMD juga dinilai menjadi solusi efektif. Contohnya, wilayah Prambanan yang sebelumnya kerap mengalami kekeringan kini relatif aman setelah teraliri air dari Sungai Opak melalui sistem distribusi perpipaan.

“Dulu Prambanan sering kekurangan air, tapi sekarang sudah jauh lebih aman setelah ada suplai dari Sungai Opak,” katanya.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah eksplorasi sumber mata air baru serta optimalisasi program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), khususnya di wilayah yang belum memiliki akses air memadai.

Dengan berbagai langkah tersebut, BPBD Sleman berharap dampak El Nino 2026 dapat ditekan, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|