Biopori Jumbo di Jogja Tembus 1.022 Titik, Andalan Olah Sampah Organik

2 hours ago 2

Biopori Jumbo di Jogja Tembus 1.022 Titik, Andalan Olah Sampah Organik

Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Pengelolaan sampah organik di Kota Jogja terus diperkuat melalui program Biopori Jumbo yang kini telah menjangkau 1.022 titik di seluruh wilayah kota. Program yang dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja ini menjadi salah satu upaya strategis untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Peningkatan jumlah Biopori Jumbo menunjukkan komitmen Pemkot Jogja dalam mendorong pengolahan sampah berbasis masyarakat. Selain menekan volume sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan, program ini juga diarahkan untuk memperkuat praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan di tingkat rumah tangga.

Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan Biopori Jumbo difokuskan untuk mengolah sampah organik rumah tangga, seperti daun kering, kulit buah, dan sisa sayuran mentah yang selama ini menjadi penyumbang cukup besar timbulan sampah harian.

"Program ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi berbasis alam atau nature-based solutions dalam menghadapi perubahan iklim," katanya, Senin (15/6/2026).

Menurut Hasto, jumlah Biopori Jumbo di Kota Jogja mengalami peningkatan signifikan. Dari sebelumnya sebanyak 622 titik, kini bertambah menjadi 1.022 titik yang tersebar di seluruh 45 kelurahan.

Pengelolaan sampah organik melalui Biopori Jumbo juga terintegrasi dengan sejumlah Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP), di antaranya RTHP Warungboto, Gajahwong Edu Park, Tegalrejo, dan Purwokinanti. Sampah organik yang terkumpul selanjutnya diolah menjadi kompos untuk mendukung program penghijauan dan pemeliharaan ruang hijau perkotaan.

Program pengembangan Biopori Jumbo tersebut merupakan bagian dari Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang mendorong warga melakukan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Program Mas JOS saat ini telah berjalan di seluruh 45 kelurahan dengan dukungan 701 Bank Sampah Unit yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, sekolah, hingga perguruan tinggi.

Selain memperkuat pengolahan sampah organik, Pemkot Jogja juga meningkatkan layanan penanganan sampah spesifik melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) Mas JOS. Layanan ini memberikan fasilitas penjemputan gratis untuk sampah berukuran besar, seperti kasur bekas, perabot rumah tangga, barang elektronik, hingga ranting pohon bagi warga Kota Jogja.

Pada tahap hilir, pemerintah juga melakukan transformasi sejumlah depo sampah menjadi fasilitas pemilahan lanjutan serta memperkuat operasional Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang tersebar di berbagai wilayah. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan trash barrier di aliran sungai guna menangkap sampah yang terbawa arus sebelum mencemari lingkungan yang lebih luas.

Hasto menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di Kota Jogja tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.

"Kalau pengelolaan sampah dilakukan dari sumbernya, maka beban di hilir akan jauh berkurang. Karena itu kami terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam setiap program pengelolaan sampah," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|