REPUBLIKA.CO.ID,SENGKANG — Pemandangan tak biasa terlihat dalam prosesi Wisuda Ma’had Aly As’adiyah Sengkang Takhaṣṣuṣ Tafsir wa ‘Ulūmuhu tahun ini. Sebelum rangkaian wisuda selesai dilaksanakan, para mahasantri sudah lebih dulu 'dibooking' untuk mengajar di berbagai daerah di Indonesia.
Ratusan proposal permintaan tenaga pengajar dilaporkan telah masuk dari pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga lembaga pendidikan Islam yang membutuhkan alumni Ma’had Aly As’adiyah. Permintaan itu datang dari berbagai wilayah, mulai Sulawesi, Kalimantan, Jambi, Riau, hingga Papua.
Fenomena ini menjadi gambaran kuat bahwa kader-kader lulusan pesantren masih sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya mereka yang memiliki penguasaan Alquran, kemampuan membaca kitab kuning, dan adab pesantren yang kuat.
Para mahasantri Takhaṣṣuṣ Tafsir wa ‘Ulūmuhu dikenal memiliki kemampuan yang kini semakin langka: hafal Alquran minimal 16 juz, mampu membaca dan mengkaji kitab kuning secara mendalam, serta dibentuk dengan tradisi pengabdian dan akhlak khas pesantren.
Di tengah era digital yang serba cepat dan instan, kombinasi antara kedalaman ilmu, hafalan Alquran, dan keteladanan akhlak tersebut menjadi modal penting yang dicari masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Ma’had Aly Indonesia, KH Nur Salikin menyebut fenomena tersebut sebagai bukti bahwa pesantren masih menjadi pusat kaderisasi ulama dan pendidik umat yang dipercaya masyarakat.
“Ini bukan sekadar wisuda. Bahkan sebelum prosesi wisuda selesai, para mahasantri sudah dipanggil umat untuk mengabdi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh harapan besar kepada kader-kader pesantren,” ujarnya dalam keterangannya, Ahad (10/5/2025).

1 week ago
23











































