Anak Lepas Gadget di Festival Dolanan Tradisional Suryodiningratan

5 hours ago 6

Anak Lepas Gadget di Festival Dolanan Tradisional Suryodiningratan

Ratusan anak melakukan kegiatan dolanan tradisional di Lapangan Minggiran, Mantrijeron, Kota Jogja, Minggu (26/7/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Festival Dolanan Tradisional 2026 kembali digelar di Lapangan Minggiran, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Minggu (26/7/2026). Agenda tahunan yang diinisiasi Kelurahan Suryodiningratan itu menjadi upaya nyata mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak sekaligus mendorong mereka mengurangi ketergantungan terhadap gawai (gadget).

Sebanyak 100 anak dari empat kampung di wilayah Suryodiningratan ikut berpartisipasi dalam festival yang memperebutkan piala bergilir kelurahan tersebut. Para peserta berasal dari Kampung Pugeran, Kumendaman, Suryodiningratan, dan Minggiran.

Beragam dolanan tradisional dipertandingkan dalam festival tersebut. Mulai dari gobak sodor, egrang batok, balap bakiak, hingga lomba tembang dan pentas teater dolanan anak yang tampil di panggung utama.

Ketua Kelurahan Budaya Suryodiningratan, Haryo Damar Teguh Wijoso, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan kembali permainan warisan leluhur kepada generasi muda. Menurutnya, dolanan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang melatih kemampuan fisik, motorik, hingga karakter anak.

"Tujuan kegiatan ini adalah untuk nguri-uri kabudayan, dolanan tradisional peninggalan leluhur kita, dan mengembalikan anak-anak kepada permainan zaman dulu serta melepaskan sejenak dari HP. Sehingga anak-anak kembali berlatih motorik, fisik, berkompetisi, serta belajar tenggang rasa menerima menang dan kalah dengan baik," ujar Haryo di lokasi acara, Minggu.

Selain mengikuti berbagai perlombaan, seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana adat Jawa. Haryo menjelaskan aturan tersebut merupakan bagian dari upaya menanamkan identitas budaya kepada anak-anak sejak usia dini.

Ia juga mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap festival tersebut. Persiapan dilakukan sejak satu bulan sebelumnya melalui latihan di tingkat RW, sementara kebutuhan konsumsi peserta dipenuhi secara swadaya oleh warga.

Jadi Ruang Berkembang bagi Ratusan Anak

Lurah Suryodiningratan, Subiyana, menuturkan Festival Dolanan Tradisional 2026 menjadi wadah bagi sekitar 800 anak yang tinggal di wilayahnya untuk mengekspresikan bakat sekaligus mengenal budaya daerah.

Menurutnya, kegiatan tahunan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat keberadaan Sumbu Filosofi Jogja melalui pelestarian budaya yang melibatkan generasi muda.

"Kami menyelenggarakan event tahunan ini untuk membudayakan masyarakat, khususnya anak-anak. Wilayah Suryodiningratan memiliki sekitar 800 anak dan mereka memiliki bakat yang perlu dikembangkan. Harapan kami ini bisa menyokong Sumbu Filosofi sekaligus memberi ruang bagi anak-anak untuk melestarikan budaya dan mengurangi penggunaan gadget," tutur Subiyana.

Patut Dicontoh

Perwakilan Dewan Kebudayaan Kota Jogja yang juga menjadi juri lomba, RM Donny Surya Megananda, memberikan apresiasi terhadap konsistensi Kelurahan Suryodiningratan dalam menjaga tradisi budaya.

Ia menilai perhatian terhadap kebudayaan sudah dilakukan bahkan sebelum isu pemajuan kebudayaan menjadi perhatian luas. Menurutnya, masing-masing kampung diberi ruang mengembangkan potensi budaya secara mandiri dengan dukungan anggaran rutin melalui Musrenbang.

"Kelurahan Suryodiningratan ini meskipun statusnya rintisan Kelurahan Budaya, tetapi perhatiannya terhadap budaya tradisi sangat tinggi. Masing-masing dari empat kampung di sini diangkat potensinya secara mandiri dan dianggarkan rutin tiap tahun melalui Musrenbang. Ini patut menjadi pedoman dan acuan bagi kelurahan lain di DIY dalam mewujudkan pelestarian serta pemajuan kebudayaan," ungkapnya.

Serunya Bermain Bersama

Suasana meriah festival turut dirasakan para peserta. Salah satunya Fariska, siswi kelas 1 SMP yang tampil dalam pentas teater dolanan anak.

Fariska mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan bermain bersama teman-temannya melalui permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui.

"Sekarang kan lumayan langka anak-anak yang mau ikut kegiatan seperti ini. Jadi saya ingin mencoba hal baru dan menambah pengalaman. Main permainan tradisional ini jauh lebih menarik karena bisa kumpul dan main bareng-bareng sama teman, beda kalau main game di HP yang biasanya sendiri-sendiri," kata Fariska.

Festival Dolanan Tradisional 2026 di Kelurahan Suryodiningratan kembali menjadi ruang pertemuan budaya, permainan tradisional, dan kebersamaan masyarakat. Melalui keterlibatan empat kampung serta dukungan warga, kegiatan tahunan ini diharapkan terus menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus mengajak anak-anak lebih dekat dengan permainan tradisional dibanding penggunaan gadget.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|