Teknologi HIFU di RS Abdi Waluyo Tawarkan Terapi Mioma Tanpa Operasi

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selama ini penderita mioma dan adenomyosis umumnya menjalani terapi konvensional untuk mengatasi kondisinya. Perkembangan teknologi kedokteran kini menghadirkan alternatif terapi mioma dan adenomyosis tanpa pembedahan melalui metode High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU) atau Focused Ultrasound Ablation (FUA). Teknologi ini tersedia di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo, dr Sigit Pramono Sp.OG, FRANZCOG, menjelaskan HIFU merupakan terapi ablasi menggunakan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi yang difokuskan langsung ke jaringan mioma tanpa melukai jaringan sehat di sekitarnya.

“Energi ultrasound diarahkan dan difokuskan ke mioma dengan panduan pencitraan USG real time. Jadi tanpa sayatan, tanpa tusukan, dan dilakukan dengan sedasi ringan,” kata dr Sigit.

Ia menyebutkan terapi HIFU di RS Abdi Waluyo telah dimulai sejak Juni 2023 dan hingga kini telah menangani lebih dari 300 kasus. Sekitar 75 persen pasien yang diterapi merupakan kasus mioma intramural, yaitu mioma yang tumbuh di dalam dinding rahim dan menyebabkan pembesaran rahim hingga beberapa kali ukuran normal.

Menurut dr Sigit, hampir semua jenis mioma dapat ditangani dengan metode ini, tergantung lokasi dan kondisi tertentu. Seperti adanya perlengketan usus atau mioma bertangkai tipis yang memerlukan kehati-hatian.

Keunggulan utama HIFU adalah minim risiko perdarahan, komplikasi rendah, serta masa pemulihan relatif cepat. Pasien umumnya menjalani prosedur selama satu hingga tiga jam, tergantung ukuran mioma, dengan rawat inap sekitar dua malam.

“Efek samping biasanya ringan, seperti nyeri menyerupai kontraksi menstruasi satu sampai dua hari pertama dan bisa ditangani dengan obat pereda nyeri sederhana,” ujarnya.

Setelahnnya jaringan yang telah diablasikan akan diserap tubuh dan sebagian dapat keluar melalui rongga rahim dalam bentuk cairan ringan selama beberapa pekan, tanpa disertai demam atau infeksi.

Siapa saja yang direkomendasikan untuk mengikuti terapi ini? dr Sigit menyarankan, terutama bagi mereka dengan mioma atau adenomyosis di atas ukuran 4-5 sentimeter.

"Makin besar mioma, maka risiko cadangan telurnya kurang makin meningkat. Ada pasien 24 tahun dengan mioma 10 cm, cadangan telurnya identik usia 40 tahun," terangnya.

Teknologi ini juga dinilai aman bagi perempuan yang masih merencanakan kehamilan. Karena tidak melibatkan pembedahan, suplai darah ke ovarium tetap terjaga sehingga tidak meningkatkan risiko menopause dini akibat gangguan vaskularisasi.

“Yang kita ablasi hanya miomanya. Jaringan sehat rahim tetap utuh dan dibutuhkan untuk fertilitas,” kata dr Sigit.

Selain untuk mioma dan adenomiosis, teknologi HIFU juga telah digunakan pada sejumlah kondisi lain seperti fibroadenoma payudara, kelainan implantasi plasenta, hingga beberapa jenis kanker seperti kanker hati, pankreas, ginjal, dan tulang.

Dr Sigit menilai teknologi ablasi berbasis ultrasound ini menjadi terobosan penting dalam tata laksana mioma dan adenomyosis karena memberikan pilihan terapi yang lebih minim invasif dibandingkan pembedahan konvensional. “Ini bisa menjadi game changer dalam penanganan mioma dan adenomyosis,” ujarnya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|